KOLOM: Pembinaan Dulu, Baru Regenerasi Timnas

PSSI sebaiknya lebih dahulukan pembinaan pemain muda, bukan regenerasi instan di Timnas.

oleh Liputan6Diterbitkan 24 Maret 2017, 08:00 WIB
Kolom Bola Asep Ginanjar (Liputan6.com/Abdillah)

Liputan6.com, Jakarta Mencetak gol tunggal kemenangan atas musuh bebuyutan dengan Timnas Jerman. Sudah begitu, gol yang dibuat pun tergolong spektakuler. Rasanya, tak ada hal yang lebih indah dari itu. Apalagi jika hal tersebut dilakukan pada laga perpisahan.

Di Signal Iduna Park, Dortmund, Kamis (23/03/2017) dini hari WIB, plot itulah yang didapatkan Lukas Podolski. Menjalani laga pamungkas sebagai penggawa Timnas Jerman, striker Galatasaray itu menjebol gawang Inggris dengan ciri khasnya. Mendapat sodoran bola dari Andre Schuerrle, Poldi melesatkan bola dengan tendangan kaki kirinya ke pojok kiri atas gawang Inggris. Meski terbang, Joe Hart yang mengawal gawang The Three Lions tak kuasa menghalau bola.

"Menang dan saya mencetak gol. Sungguh seperti sebuah film. Gol tadi itu bisa jadi gol terbaik bulanan yang ke-12 bagi saya," ungkap Poldi merujuk pada pemilihan gol terbaik di salah satu stasiun televisi Jerman. Hingga kini, sebelas golnya pernah menjadi gol terbaik. "Tuhan atau siapa pun di atas sana sungguh sudah memberikan kaki kiri yang selalu bisa saya andalkan."

Kisah indah itu sejatinya memang penutup bab Poldi di timnas Jerman. Namun, secara tidak resmi, Itu juga merupakan pembuka bab baru bagi kiprah pelatih Joachim Loew. Poldi adalah penggawa terakhir yang berasal dari era sebelum Loew menangani Die Mannschaft. Seperti Bastian Schweinsteiger, Philipp Lahm, dan Miroslav Klose, Poldi merupakan warisan Rudi Voeller. Sementara itu, Per Mertesacker yang bersama Lahm dan Klose mundur usai Jerman menjuarai Piala Dunia 2014 adalah warisan terakhir Juergen Klinsmann.

Gelandang Jerman, Lukas Podolski, melakukan selebrasi usai mencetak gol ke gawang Inggris saat pertandingan persahabatan di Stadion Signal Iduna Park, Jerman, Rabu, (22/03/2017). Jerman taklukan Inggris 1-0. (AFP/Ina Fassbender)

Lanjut Baca:

Minggu (26/03/2017), saat melawat ke Baku, Azerbaijan, dalam lanjutan Pra-Piala Dunia 2018, seluruh penggawa Jerman melakukan debut pada era Loew. Dari Manuel Friedrich pada 2006 hingga Timo Werner pada Kamis lalu, sebanyak 87 pemain melakukan debut di timnas Jerman. Jumlah yang luar biasa. Rata-rata, setiap tahun, Loew memberikan debut kepada setidaknya delapan pemain di Timnas Jerman.Loew tentu tak main-main dan asal comot. Pastilah hanya pemain dengan kemampuan apik yang diberi kesempatan membela Die Mannschaft. Para pemain itu pun tentulah tidak muncul begitu saja dari dalam perut bumi atau batu yang terbelah. Mereka lahir dari sistem pembinaan usia dini yang diterapkan sejak jelang pergantian milenium.Musim semi 1998, Dietrich Weise, eks pelatih timnas junior Jerman, menghadap Egidius Braun, presiden DFB. Weise menyodorkan sebuah skema yang dirasa bisa menjadi panasea bagi sepak bola Jerman yang sepi talenta hebat. Fokusnya adalah menemukan dan menangani dengan baik para pemain berumur 11 hingga 17 tahun. Karena dinilai terlalu mahal, proposal Weise ditolak mentah-mentah oleh Braun. Namun, empat pekan setelah kekalahan Jerman dari Kroasia di perempat final Piala Dunia 1998, Braun berubah pikiran. Konsep Weise diterima dan diimplememtasikan DFB. Langkah yang lantas diikuti kebijakan yang mengharuskan klub-klub Bundesliga 1 memiliki akademi sepak bola itu menjadi landasan penting bagi Jerman untuk melakukan regenerasi secara alami. Talenta-talenta yang terlahir dari sistem ini kemudian mendorong para pemain senior dari timnas. Bahkan, belakangan ini, para pemain senior yang merasa tak perlu ngotot bertahan di[ timnas](2896422 "") belumlah terlalu tua. Podolski pada tahun ini baru berumur 31 tahun, sama dengan Philipp Lahm usai Piala Dunia 2014. Lalu, Schweinsteiger pada tahun lalu baru menginjak umur 32 tahun. Adapun Per Mertesacker pada 2014 malah baru 30 tahun.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya