Liputan6.com, Solok: Harga cabai di sejumlah daerah boleh saja melonjak tinggi. Namun, petani cabai di Solok, Sumatra Barat, merugi di saat harga cabai sedang tinggi. Hal ini dikarenakan banyak tanaman cabai yang terserang penyakit, sehingga membuat hasil panen jauh berkurang. Setidaknya itulah yang dialami Syafri, petani cabai di Bukit Sileh, Lembang Jaya, Solok, baru-baru ini.
Menurut Syafri, ada satu hektare tanaman cabai miliknya yang terserang penyakit. Ini membuat daun cabai menjadi keriting, kuning tampuk, dan mati batang. Salah satu penyebabnya adalah cuaca buruk yang terjadi di Solok. Hujan dan angin kencang membuat dia tak bisa merasakan panen dengan hasil banyak.
Jika biasa bisa memanen cabai 300 kilogram, kali ini Syafri hanya dapat setengahnya. Itu pun dengan kualitas yang tidak bagus. Padahal, harga cabai di Solok sekarang mencapai Rp 50 ribu kilogram. Namun, dengan rusaknya hasil panen, tak banyak keuntungan yang bisa diperoleh Syafri [baca: Stok Kurang, Harga Cabai Mahal].(ULF)
Menurut Syafri, ada satu hektare tanaman cabai miliknya yang terserang penyakit. Ini membuat daun cabai menjadi keriting, kuning tampuk, dan mati batang. Salah satu penyebabnya adalah cuaca buruk yang terjadi di Solok. Hujan dan angin kencang membuat dia tak bisa merasakan panen dengan hasil banyak.
Jika biasa bisa memanen cabai 300 kilogram, kali ini Syafri hanya dapat setengahnya. Itu pun dengan kualitas yang tidak bagus. Padahal, harga cabai di Solok sekarang mencapai Rp 50 ribu kilogram. Namun, dengan rusaknya hasil panen, tak banyak keuntungan yang bisa diperoleh Syafri [baca: Stok Kurang, Harga Cabai Mahal].(ULF)