Patah Tulang, Berkah bagi Villa

David Villa siap menyempurnakan perjalanan panjang Spanyol dengan meraih gelar juara dunia. Tapi, siapa sangka bomber kandidat peraih Golden Boot ini hampir saja kehilangan satu kakinya di waktu kecil.

oleh Liputan6Diterbitkan 09 Juli 2010, 13:30 WIB
Ekspresi kegembiraan David Villa setelah mencetak gol pertama kemenangan Spanyol 2-0 atas Honduras pad alaga kedua Grup H di Johannesburg, 21 Juni 2010 AFP PHOTO/ROBERTO SCHMIDT
Liputan6.com, Johannesburg: Lima gol telah dicetak oleh striker Spanyol David Villa membantu negaranya meraih sejarah baru mencapai final pertama mereka di ajang Piala Dunia (PD). Namun, sekitar seperempat abad lalu, para dokter mengkhawatirkan keadaan kakinya. Bahkan, sempat tersirat kemungkinan jika kaki kanan Villa kudu diamputasi setelah mengalami patah tulang paha yang mengerikan.

Saat bermain sepakbola di masa kanak-kanaknya, sebuah kecelakaan terjadi. Seorang bocah laki-laki yang lebih tua darinya jatuh di atas kaki bintang Barcelona itu. Secara mengagumkan, ia yang saat itu berusia 4 tahun berhasil lolos dari kemungkinan terburuk untuk diamputasi itu tapi harus menghabiskan enam bulan diplester dan, ironisnya, mengawali perjalanan panjangnya menuju ketenaran.

Jose Manuel, sang ayah yang bekerja sebagai penambang, setiap hari pulang ke rumah setelah bekerja keras seharian menghabiskan waktu 2 jam bermain bersama Villa kecil dan mengajarinya bermain sepakbola dengan kaki kiri. "Saat saya pulang ke rumah dari tambang kami selalu menghabiskan dua jam bersama. Saya akan mengoper bola kearahnya dan ia akan menendangnya dengan kaki kiri," cerita sang ayah.

Villa menghormati ayahnya, yang selalu mendukungnya dan percaya bisa menjadikannya pemain sepakbola. "Ayah saya akan berada di sana melemparkan bola ke arah saya terus menerus, membuat saya menendangnya dengan kaki kiri saya ketika yang kanan diplester karena patah. Saya hampir tidak bisa mengingat setiap sesi latihan saat ayah tidak berada di sana. Saya tidak pernah sendirian di lapangan."

Villa kecil melihat ayahnya tiba di rumah dengan kelelahan setiap hari dan bersumpah tidak ingin mengikuti jejak sang ayah menjadi seorang penambang. Ia menambahkan, "Saya tidak pernah berpikir menjadi seorang penambang karena banyak hal buruk terjadi pada mereka, kecelakaan yang membuat ibu saya harus menghabiskan waktu di rumah sakit. Saya tidak akan menjadi penambang kecuali saya terobsesi untuk mati."

Meski memiliki bakat yang luar biasa, V
Lanjut Baca:

illa berusia 9 tahun pernah mengalami pahitnya ditolak dan menghabiskan waktu menangis berjam-jam saat klub lokal Oviedo mengatakan bahwa ia terlalu kecil untuk anak-anak seusianya. Alasan lain penolakannya adalah klub harus mengeluarkan uang lebih untuk transportasi dan dari kota tambang tempatnya tinggal. Saat itu, Villa begitu sakit hati namun kemudian akhirnya diterima untuk Langreo, klub kecil lainnya. Menjelang dewasa, ia pergi ke Sporting Gijon, musuh bebuyutan Oviedo. lalu pindah ke Zaragoza dan akhirnya menjadi bintang Valencia. Akhirnya, perjalanan panjang Villa yang penuh peluh dan rasa sakit mencapai kejayaan dan berujung saat takdir mempertemukan Spanyol dengan skuad Oranje di partai puncak, Minggu (11/7) malam waktu setempat atau Senin dini hari WIB. El Guaje. julukannya, menjadi bintang Piala Dunia yang menyamai rekor Rivaldo dengan mencetak gol di empat pertandingan berturut-turut. Jutaan rakyat Spanyol membanjiri jalanan untuk merayakan kemenangan atas Jerman hingga malam. Villa menyimpulkan, "Kami sangat bangga memiliki fans seperti yang kami miliki dan sekarang kami harus melengkapi mimpi kami dengan memenangkan final." Bagi David dan, terutama, pahlawannya Papa Jose Manuel kemenangan itu akan lebih berarti.(MRQ/The Sun)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya