KOLOM: Satu Asa untuk Luis Milla

Luis Milla resmi tangani Timnas Indonesia untuk durasi dua tahun.

oleh Liputan6Diterbitkan 27 Januari 2017, 08:00 WIB
Asep Ginanjar (Liputan6.com/Abdillah)

Liputan6.com, Jakarta - Luis Milla Aspas. Nama pria kelahiran Teruel, kota di bagian Timur Spanyol yang terletak di ketinggian 915 meter di atas permukaan laut ini sudah menghiasi pemberitaan sepak bola nasional sejak beberapa pekan silam. Jadi, bukan kejutan besar ketika PSSI mengumumkan pria berumur 50 tahun tersebut sebagai pelatih timnas senior dan U-23 pada 20 Januari lalu.Penunjukan Milla juga tak mengejutkan.

Tanpa agenda Timnas Indonesia yang padat karena tak ikut dalam Pra-Piala Dunia 2018 dan kualifikasi Piala Asia 2019, PSSI tentu lebih membutuhkan pelatih yang terbiasa menangani para pemain muda. Apalagi bidikan PSSI adalah SEA Games tahun ini dan Asian Games tahun depan. PSSI menginginkan medali emas SEA Games dan setidaknya semifinalis Asian Games.

Eks pemain yang pernah membela Barcelona, Real Madrid, dan Valencia tersebut memang dikenal mumpuni dalam memoles para talenta muda. Dia pernah menangani timnas U-19, U-20, U-21, dan U-23 Spanyol. Prestasinya adalah runner-up Piala Eropa U-19 2010 dan juara Piala Eropa U-21 2011. Pengalaman itu tentu bisa diandalkan saat menukangi Garuda dan Garuda Muda.

Karena reputasinya, ada harapan besar yang mengiringi kedatangan Milla. Beberapa pihak tak ragu menunjukkan optimisme tinggi terhadap kehadirannya. Optimisme melihat timnas yang lebih baik. Timnas Indonesia yang memiliki identitas permainan apik dan berprestasi. Maklum, Milla yang jebolan La Masia, akademi milik Barcelona, memang dikenal sebagai pengusung sepak bola atraktif.

Pelatih asal Spanyol, Luis Milla Aspas (tengah) saat memberi keterangan di kantor PSSI, Jakarta, Jumat (20/1). Luis Milla Aspas resmi menukangi Timnas Indonesia dengan durasi kontrak dua tahun. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Dalam konferensi pers pertamanya, Milla mengakui, dirinya terpilih karena PSSI ingin menerapkan gaya sepak bola Spanyol. Direktur Teknik Danurwindo, seperti dikutip Liputan6.com, bahkan secara spesifik menyebut Milla akan menerapkan filosofi sepak bola La Masia, yakni sepak bola menyerang.

Lanjut Baca:

Sekitar empat tahun silam, alasan itu pula yang membuat Milla diboyong ke tanah Asia oleh Al Jazira, klub asal Uni Emirat Arab. Ayed Mabkhout yang menjabat manajer tim utama Al Jazira kepada Sport 360 pada 2013 mengungkapkan, pergantian pelatih dari Paulo Bonamigo ke Milla semata karena persoalan gaya main. “Secara umum, kami tidak puas dengan cara kami bermain,” kata dia. Soal Milla, Mabkhout berujar, “Milla adalah salah satu pelatih yang menganut sepak bola model baru. Para pelatih Spanyol punya ide-ide baru di sepak bola. Kami berbicara dengan dia dan tahu persis bahwa dia pun memiliki ide yang bagus.”

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya