Candi Sojiwan Menginspirasi Lahirnya Motif Batik Menawan

Relief Tantri yang ada pada Candi Sojiwan menginspirasi masyarakat Klaten untuk menciptakan motif batik baru yang menawan.

oleh Yanuar HAhmad Apriyono diperbarui 21 Jan 2017, 07:00 WIB
Cerita binatang yang ada pada relief Candi Sojiwan menceritakan kebijaksaan yang mengandung nilai-nilai. Foto: Yanuar H/ Liputan6.com.

Liputan6.com, Yogyakarta Candi Sojiwan memang tidak seterkenal Prambanan dan Borobudur, namun candi yang ada di Klaten Jawa Tengah ini punya cerita sejarah yang tak kalah menarik. Dibangun oleh Raja Balitung di zaman Dinasti Mataram Kuno pada abad ke-8, Candi Sojiwan merupakan monumen yang dibangun sebagai simbol penghormatan raja kepada neneknya, yakni Nini Haji Rakryan yang beragama Buddha.

Relief Candi Sojiwan didominasi oleh gambar cerita binatang. Di antara banyak cerita binatang, salah satu yang menarik adalah relief yang menggambarkan seekor kera yang mampu mengelabuhi buaya sehingga si kera bisa menyeberang sungai. Beragam relief inilah yang kemudian menginspirasi warga Dusun Sojiwan Kebon Dalem Kidul, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah dalam menciptakan motif batik yang baru.

Saat peluncuran Batik Sojiwan yang dihadiri UNESCO Jakarta di pelataran Candi Sojiwan, Kamis (19/1/2017), Legowo Ketua II Kelompok Batik Sojiwan mengatakan, tak hanya gambar belaka, di dalam motif batik ini juga terkandung banyak makna filosofi.

Lebih jauh dirinya menjelaskan, cerita binatang yang ada pada relief Candi Sojiwan menceritakan kebijaksaan yang mengandung nilai-nilai. Hingga kini sudah ada 16 motif batik yang diberinama sesuai dengan relief-relief yang ada pada bangunan candi.

Relief Tantri yang ada pada Candi Sojiwan menginspirasi masyarakat Klaten untuk menciptakan motif batik baru yang menawan. Foto: Yanuar H/ Liputan6.com.


"Itu hasil dari 21 orang pengrajin sekarang masih 13. Waktu itu ada tamu dari Jakarta kebetulan ada event disini batik kami diborong semua," kata Legowo.

Saat ini Batik Sojiwan sudah dibuat dalam dua cara, yaitu tulis dan cap. Khusus tulis setiap 2,5 meter dihargai Rp 500 ribu, sementara batik cap dibanderol dengan harga lebih murah, yaitu Rp 250-300 ribu.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya