Liputan6.com, Jakarta - Harapan itu akhirnya sirna. Selama bertahun-tahun, bahkan sejak bergabung dengan tim U-17 pada 2009, Julian Green memendam asa berada di tim utama Bayern Muenchen. Tentu saja bukan untuk sekadar jadi pemanis, melainkan tampil sebagai pemain inti seperti para jebolan tim junior Bayern sebelumnya macam Thomas Mueller dan David Alaba.
Hingga awal musim ini, hasrat Green masih menggebu. "Aku telah bermain di sini sejak berumur 14 tahun. Bayern selalu menjadi klubku. Aku tumbuh di dekat Muenchen. Itu sebabnya aku sejak kecil sangat mengidolakan Bayern. Sangat penting bagiku untuk bisa berhasil di sini. Aku tahu ini berat, namun tak ada yang tak mungkin," terang pemain yang membela timnas Amerika Serikat di Piala Dunia 2014 tersebut.
Advertisement
Akan tetapi, pada akhirnya, bab Bayern Muenchen harus ditutup Green lebih awal. Hanya beberapa hari jelang Natal tahun lalu, dia memastikan bergabung dengan klub Bundesliga 2, VfB Stuttgart. Sebuah pilihan sulit namun tak terhindarkan demi perkembangan kariernya ke depan.
Transfer itu tak hanya menyakitkan bagi Green, tetapi juga Uli Hoeness, Presiden Bayern Muenchen. Lagi-lagi talenta yang dibina sejak lama gagal menapaki jejak Alaba, Mueller, dan Philipp Lahm. Sebelumnya, Pierre-Emile Hoejberg hengkang ke Southampton dan Sinan Kurt bergabung dengan Hertha BSC.
Bukan rahasia, Hoeness begitu rindu melihat pemain-pemain dari akademi naik kelas dan tim-tim junior Bayern berjaya. Kerinduan itu bahkan sudah menjadi obsesi. Demi mewujudkannya, Die Roten rela mengeluarkan uang 70 juta euro demi membangun fasilitas baru di dekat Stadion Allianz Arena untuk sektor junior Bayern. Rencananya, markas baru bagi semua tim junior Bayern itu akan bisa dipakai pada awal musim depan.
Hoeness resah. Saat umur Lahm terus merambat ke masa pensiun, tak ada jua talenta muda dari tim junior yang mentas. Pemain terakhir yang sanggup promosi dan menjadi pemain inti hingga kini adalah Alaba yang diorbitkan Louis van Gaal pada 2009, tahun ketika Green bergabung dengan tim U-17 Bayern.
Hoeness mendambakan regenerasi berkelanjutan, namun dia tak bisa memaksakan diri. Bagaimanapun, tidak mungkin memaksakan para talenta muda membela tim utama dengan begitu saja. Itu tak ubahnya menggadaikan prestasi, hal yang pastinya tak mau dilakukan oleh Hoeness dan Bayern.