Liputan6.com, Purwakarta: Tak disangka jika sebuah ancaman menjelma menjadi kenyataan. Sebuah lubang besar mirip kubangan bekas hantaman bom muncul tepat di tengah lajur Tol Cipularang yang menghubungkan Jakarta-Bandung, Jawa Barat. Aspal jalanan pun amblas ke bawah. Salah satu pemicunya adalah karakter tanah yang menopang jalan tol.
Tercatat, sudah lebih dari lima kali kawasan Tol Cipularang terkena musibah. Bencana itu terjadi antara kilometer 91-114, merupakan areal yang kerap diterpa longsor. Longsornya dapat berupa luncuran dari tebing, atau pun longsor rayapan yang berada di areal Desa Pasir Munjul, Purwakarta, Jabar. Hal yang perlu diwaspadai siapa pun yang melintasi Cipularang.
Jalan tol yang mengenakan bea bagi pemakainya ini, ternyata melewati tanah yang tidak stabil. Parahnya lagi cakupan area tanah labilnya mencapai 400 hektar atau 100 kali lapangan sepak bola. Jadilah proyek jalan tol raksasa yang dikerjakan selama setahun dan setidaknya 50 ribu pekerja, dengan biaya lebih dari Rp 1,6 trilyun ini menjadi rawan longsor.
Ancaman longsor di lajur Tol Cipularang sudah lama menjadi salah satu fokus perhatian peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Adrin Tohari misalnya. Sejak tol ini beroperasi pada April 2005, Geoteknik LIPI ini terus mengkaji dan mengamati areal yang berpotensi longsor di Desa Pasir Munjul. Sebagian kecil desa ini dipakai untuk lajur Tol Cipularang, tepatnya di kilometer 91-92.
Hasilnya ditemukan areal longsor purba aktif. Begitulah potensi ancaman longsor di Desa Pasir Munjul. Mengapa Purba? Karena tipe ancaman longsornya berlangsung terus-menerus. Terlebih lagi ketika hujan deras datang mengguyur Bumi. Konstruksi pencegahan agar lajur tol tak amblas tak serta merta membuat tol di kilometer ini lolos dari ancaman. Areal Pasir Munjul juga disebut sebagai "megaland-slide" atau longsor raksasa lantaran begitu luasannya ancaman yang dikhawatirkan.
Tenang dan damai, sepintas lalu, begitulah kehidupan di Desa Pasir Munjul. Tapi di balik ketentramannya, desa ini menyimpan ancaman longsor terus menerus. Hujan lebat menjadi saat yang paling buruk. Sebab tidak jarang warga merasakan tanah yang mereka pijak bergerak saat hujan turun. Longsor rayapan yang membuat tanah retak-retak, mengintai masyarakat Pasir Munjul setiap kali hujan tiba.
Ada beberapa jenis longsor. Longsor translasi, rotasi, pergerakan blok, runtuhan batu, aliran bahan rombakan, dan longsor rayapan tanah misalnya. Di kawasan Desa Pasir Munjul, jenis longsornya adalah rayapan tanah. Di wilayah ini, terdapat lapisan tanah yang kurang padat, tebal, atau lempung. Tanah jenis ini rentan pergerakan karena menjadi lembek terkena air dan pecah ketika hawa terlalu panas.
Kadar bahaya di Pasir Munjul memang tidak separah longsor di Ciwidey, Jawa Barat. Sebuah tragedi yang menelan banyak korban jiwa. Tapi di Pasir Munjul, ancaman tidak pernah hilang. Sebab, potensinya terus-menerus dan bersifat tahunan. Parahnya lagi kini, puluhan ribu mobil selama 24 jam melewati jalan tersebut. Jadi waspadalah jika Anda melewati Tol Cipularang.(ASW/AYB)
Tercatat, sudah lebih dari lima kali kawasan Tol Cipularang terkena musibah. Bencana itu terjadi antara kilometer 91-114, merupakan areal yang kerap diterpa longsor. Longsornya dapat berupa luncuran dari tebing, atau pun longsor rayapan yang berada di areal Desa Pasir Munjul, Purwakarta, Jabar. Hal yang perlu diwaspadai siapa pun yang melintasi Cipularang.
Jalan tol yang mengenakan bea bagi pemakainya ini, ternyata melewati tanah yang tidak stabil. Parahnya lagi cakupan area tanah labilnya mencapai 400 hektar atau 100 kali lapangan sepak bola. Jadilah proyek jalan tol raksasa yang dikerjakan selama setahun dan setidaknya 50 ribu pekerja, dengan biaya lebih dari Rp 1,6 trilyun ini menjadi rawan longsor.
Ancaman longsor di lajur Tol Cipularang sudah lama menjadi salah satu fokus perhatian peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Adrin Tohari misalnya. Sejak tol ini beroperasi pada April 2005, Geoteknik LIPI ini terus mengkaji dan mengamati areal yang berpotensi longsor di Desa Pasir Munjul. Sebagian kecil desa ini dipakai untuk lajur Tol Cipularang, tepatnya di kilometer 91-92.
Hasilnya ditemukan areal longsor purba aktif. Begitulah potensi ancaman longsor di Desa Pasir Munjul. Mengapa Purba? Karena tipe ancaman longsornya berlangsung terus-menerus. Terlebih lagi ketika hujan deras datang mengguyur Bumi. Konstruksi pencegahan agar lajur tol tak amblas tak serta merta membuat tol di kilometer ini lolos dari ancaman. Areal Pasir Munjul juga disebut sebagai "megaland-slide" atau longsor raksasa lantaran begitu luasannya ancaman yang dikhawatirkan.
Tenang dan damai, sepintas lalu, begitulah kehidupan di Desa Pasir Munjul. Tapi di balik ketentramannya, desa ini menyimpan ancaman longsor terus menerus. Hujan lebat menjadi saat yang paling buruk. Sebab tidak jarang warga merasakan tanah yang mereka pijak bergerak saat hujan turun. Longsor rayapan yang membuat tanah retak-retak, mengintai masyarakat Pasir Munjul setiap kali hujan tiba.
Ada beberapa jenis longsor. Longsor translasi, rotasi, pergerakan blok, runtuhan batu, aliran bahan rombakan, dan longsor rayapan tanah misalnya. Di kawasan Desa Pasir Munjul, jenis longsornya adalah rayapan tanah. Di wilayah ini, terdapat lapisan tanah yang kurang padat, tebal, atau lempung. Tanah jenis ini rentan pergerakan karena menjadi lembek terkena air dan pecah ketika hawa terlalu panas.
Kadar bahaya di Pasir Munjul memang tidak separah longsor di Ciwidey, Jawa Barat. Sebuah tragedi yang menelan banyak korban jiwa. Tapi di Pasir Munjul, ancaman tidak pernah hilang. Sebab, potensinya terus-menerus dan bersifat tahunan. Parahnya lagi kini, puluhan ribu mobil selama 24 jam melewati jalan tersebut. Jadi waspadalah jika Anda melewati Tol Cipularang.(ASW/AYB)