Wajah Koyak Afghanistan dan Palestina

Rezim Taliban disingkirkan, meski Osama bin Laden tak ditemukan. Pemerintahan baru bentukan negara Barat bertugas merajut Afghanistan. Konflik Palestina dan Israel kian menjauh dari perdamaian.

oleh Liputan6Diterbitkan 31 Desember 2001, 10:01 WIB
Liputan6.com, Kabul: Afghanistan kembali menjadi sorotan utama masyarakat dunia setelah Amerika Serikat mengumumkan perang terhadap rezim Taliban [baca:Amerika Serikat dan Inggris Menyerang Afghanistan]. Penguasa negara di kawasan Asia Tengah itu dituding AS melindungi Osama bin Laden dan organisasi teroris Al-Qaeda.

Keterlibatan Negeri Adi Kuasa menimbulkan gejolak politik internasional. Selanjutnya, perhatian dunia internasional tertuju kepada Afghanistan sekaligus menandai era baru kampanye perang melawan terorisme. Perburuan terhadap Osama dan serangan militer AS terhadap Taliban dipicu aksi teroris yang menghancurkan Gedung World Trade Center di New York dan markas pertahanan Pentagon di Washington DC [baca:Serbuan Teroris Mengguncang Amerika Serikat].

Berkat bantuan tentara Amerika, satu per satu benteng pertahanan Taliban direbut [baca:Aliansi Utara Menguasai Kabul, Kandahar, dan Jalalabad]. Tak cukup membombardir pusat-pusat pertahanan Taliban dari udara, pasukan khusus juga disusupkan ke daratan Afghanistan [baca:Pentagon Menambah Pasukan Khusus ke Afghanistan]. Tapi Osama bin Laden, musuh utama AS, tidak ditemukan. Turut raib bersama angin gurun yakni Mullah Umar, pemimpin tertinggi Taliban [baca:AS Masih Mengincar Mullah dan Osama].

Penguasa Taliban yang sangat mengontrol ketat kehidupan politik dan kemasyarakatan warganya hanya mampu bertahan selama lima tahun. Gempuran bertubi-tubi melalui serangan udara dan serbuan pasukan Aliansi Utara tak mampu ditandingi Taliban yang harus menyerahkan wilayahnya sedikit demi sedikit. Mazhar-i-Sharif, Kabul, Kunduz dan pusat kekuasaan di Kandahar jatuh ke tangan pasukan antiTaliban dengan dukungan koalisi internasional.

Lima tahun silam, Taliban didukung sebagian masyarakat Internasional memaksa pasukan Aliansi Utara hengkang dari ibukota Kabul. Mereka menyingkir ke wilayah-wilayah utara Afghanistan. Perlahan tapi pasti, Taliban menguasai bumi para mullah ini. Kini nasib buruk menimpa Taliban. Amerika dan negara-negara barat mengecam pemerintahan Taliban sebagai pemerintahan yang represif [baca:Wolfowitz: Serangan AS Bukan untuk Menghancurkan Afghanistan] dan pendukung gerakan terorisme internasional. Penguasa bergaris keras itu tak dapat membela diri dari opini internasional. Sanggahan mereka bukan pelaku peledakan Gedung WTC dan pendukung terorisme dianggap angin lalu.

Serangan militer bertubi-tubi meluluhlantakan kekuasaan Taliban. Pasukannya tercerai berai di pegunungan-pegunungan dan daerah terpencil di Afghanistan Selatan. Sebagian lainnya menjadi tahanan di penjara-penjara Aliansi Utara [baca:Ratusan Prajurit Taliban Menjadi Tawanan Perang]. Tapi nasib mereka lebih beruntung dibanding sesama rekannya yang tewas oleh keganasan pasukan Aliansi Utara dan serangan misil-misil AS. Opini yang menyatakan Taliban harus dihancurkan tampak jelas hingga detik terakhir jatuhnya pertahanan di Kandahar.

Setelah melalui perjalanan panjang dan berliku, pemerintahan baru Afghanistan terbentuk [baca:Karzai Mempersiapkan Pemerintahan Baru]. Pemerintahan berbasis luas ini [baca:Kabinet Pemerintahan Sementara Afghanistan Resmi Dilantik] menandai era baru Afghanistan setelah berpuluh tahun tak pernah lepas dari peperangan. Negeri berpenduduk 27 juta jiwa itu berhasil mengusir Uni Soviet, perang saudara hingga pertempuran melawan pejuang Taliban. Penguasa baru beranggapan kaum Taliban tidak perlu diikutsertakan dalam pemerintahan bentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan koalisi negara-negara Barat sesuai kesepakatan sejumlah faksi di Konferensi di Bonn, Jerman.

Aliansi Utara dan AS bersorak meraih kemenangan. Boleh jadi kegembiraan itu terkesan semu karena Osama bin Laden hingga kini belum ditemukan. Pria berkewarganegaraan Arab Saudi yang dijuluki gembong teroris itu tidak ketahuan rimbanya. Amerika meyakini jaringan Al Qaeda telah hancur. Sejumlah tokohnya juga diklaim telah tewas. Tapi tak ada yang bisa menjamin kebenaran klaim jika Osama belum tertangkap[baca: Osama bin Laden Masih Hidup].

Tak ada jaminan pula pasukan Taliban tidak akan melakukan serangan balik mematikan. Kini mereka bersembunyi di dalam goa di balik-balik gunung dan perbukitan tandus. Peperangan di negara yang bertetangga dengan Iran dan Pakistan itu diperkirakan masih panjang. Tak ada jaminan terorisme akan lenyap dari muka bumi jika Osama tertangkap. Sebaliknya, akan muncul gelombang terorisme baru yang diselubungi dendam kepada penguasa dunia, Amerika Serikat.

Bumi Afghanistan menghasilkan euphoria kemenangan Aliansi Utara dan AS. Mereka larut dalam kemenangan yang dianggap sewajarnya bagi sang penegak keadilan. Kemenangan pada akhirnya berujud pada pembagian kekuasaan dan pemenuhan kepentingan. Aliansi Utara kini berkuasa di Afghanistan. Bagi AS, kemenangan berwujud prestise sebagai negara Adi daya yang berkuasa mengatur dunia.

Aliansi Utara berpesta kekuasaan dengan mendudukkan sejumlah tokohnya dalam pemerintahan baru Afghanistan hingga pembentukan Loya Jirga enam bulan mendatang. Mereka tak sepenuhnya puas karena posisi kunci pemerintahan masih dipegang oleh suku mayoritas di Afghanistan, Pashtun. Namun, kemenangan melawan Taliban memberi kesempatan kepada Aliansi Utara untuk kembali sepenuhnya berkuasa di Afghanistan. Mereka juga bisa membalas dendam atas kekalahan lima tahun lampau.

Dengan persetujuan PBB [baca:PBB Memaklumi Serangan AS], Amerika meraih kemenangan diplomatik di dunia internasional dengan menggalang kekuatan [baca:NATO Mendukung Serangan AS] menyerang Afghanistan. Kemenangan itu kian menobatkan AS sebagai kampiun demokrasi dan polisi dunia. Meski Osama bin Laden belum tertangkap, tapi AS ingin membuktikan mereka layak mengatur dunia.

Kegembiraan yang melanda Aliansi Utara dan AS menyisakan derita berkepanjangan bagi rakyat Afghanistan. Ratusan rakyat sipil tewas akibat pemboman AS [baca:Serangan AS Menewaskan Puluhan Warga Sipil], sedangkan ratusan lainnya menderita luka atau cacat fisik seumur hidup. Ratusan ribu orang berbondong-bondong meninggalkan Afghanistan menuju negara-negara tetangga [baca:Pengungsi Afghanistan Terus Membanjiri Pakistan] untuk menyelamatkan diri.

Tidak sedikit pengungsi yang tewas [baca:Sejumlah Pengungsi Afghanistan Meninggal] sebelum mencapai negara tujuan karena beratnya medan dan ketiadaan pangan. Sebagian dari mereka berhasil lolos, tapi menderita di kamp-kamp pengungsian karena tidak mendapat pangan yang layak [baca:Nasib Pengungsi Afghanistan Memprihatinkan] dan terjangkit penyakit mematikan karena buruknya kamp pengungsian.

Setiap hari, puluhan warga meninggal akibat buruknya pelayanan di kamp pengungsian. Setiap bulan angka kematian terus meningkat tanpa dapat ditekan. Bantuan internasional memang berdatangan, tapi jumlah pengungsi tak pernah berkurang. Mereka hanya tinggal menunggu waktu kematian di negeri orang.

Para pengungsi yang tak tertampung menyebar menjadi pengemis dan gelandangan di sudut-sudut jalan perkotaan. Pemerintah Pakistan memperkirakan jumlah gelandangan dan pengemis tak kurang dari 100 ribu orang [baca:Jutaan Pengungsi Afghanistan Menetap di Pakistan]. Sebagian besar adalah orang tua, wanita, dan anak-anak. Mereka hidup mengandalkan belas kasihan warga atau bantuan para dermawan. Kehadiran mereka membuat kota perbatasan seperti Peshawar menjadi kota para gelandangan dan pengemis. Pemerintah Pakistan tampak kewalahan mengatur mereka. Keterbatasan kemampuan dalam negeri serta berkurangnya bantuan internasional kian memperparah kondisi para pengungsi.

Perang di Afghanistan memang telah berakhir. Namun tak ada jaminan bagi para pengungsi bahwa perang tidak akan meletus lagi. Demikian juga mereka tak dijamin menjalani ketentraman hidup di Tanah Air sendiri. Kerusakan sarana fisik dan ketiadaan lapangan pekerjaan membuat kehidupan di Afghanistan sangat riskan untuk dilalui. Sebagian besar para pengungsi menolak kembali ke negaranya. Mereka lebih suka menjadi pengungsi dan gelandangan di negeri orang.

Penderitaan para pengungsi ini seakan tiada akhir. Ribuan orang telah menemui ajalnya. Mereka yang masih hidup berada dalam ketidakpastian. Peperangan meninggalkan luka di dada mereka sekaligus menghapuskan masa depan. Tak ada lagi harapan yang tersisa kecuali mengharapkan kemurahan dari Yang Maha Kuasa.

Tak jauh dari Afghanistan, sengketa antara Palestina dan Israel menjadi satu sumber permasalahan internasional yang tak kunjung selesai. Segenap upaya telah dilakukan sejumlah negara dan lembaga-lembaga internasional untuk mengakhiri konflik di wilayah jajahan Israel itu. Tapi hingga kini tidak terlihat hasil nyata. PBB telah berulangkali mengeluarkan resolusi [baca:PBB Menelurkan Resolusi Mengecam Israel] untuk menyelesaikan masalah Palestina. Tapi Negeri Yahudi itu tak pernah menaati resolusi badan dunia itu.

Di penghujung tahun, puluhan tank-tank Israel menggempur wilayah otoritas Palestina di Jalur Gaza dan Tepi Barat. Negara zionis itu beralasan aksi itu sebagai serangan balasan atas bom bunuh diri warga Palestina terhadap warga, pemimpin atau bangunan-bangunan milik Israel. Jet-jet tempur Israel buatan AS melancarkan serangan udara dengan membombardir seluruh wilayah Palestina tanpa pandang bulu [baca:Israel Kembali Membombardir Pemukiman Palestina]. Sarana vital milik otoritas Palestina juga tak luput dari sasaran, termasuk markas besar tentara Palestina, tempat Presiden Yasser Arafat menjalankan roda pemerintahan.

Aroma kematian yang disebar tentara Israel, tidak menyurutkan gejolak jiwa anak-anak muda Palestina. Dengan tak kenal lelah, mereka terus melakukan perlawanan meski hanya dengan menggunakan batu-batu kerikil, ketapel, dan membakar ban-ban bekas lewat perjuangan intifada.

Aksi bom bunuh diri [baca:Bom Bunuh Diri Kembali Mengguncang Israel] dan pembunuhan politik oleh kelompok-kelompok garis keras Palestina terus berlangsung. Sasarannya tidak hanya warga Israel atau bangunan-bangunan penting pemerintah, tapi juga mengarah kepada para politisi tingkat atas. Pembunuhan Menteri Pariwisata Israel dari partai ultra nasionalis Otober silam menandakan kelompok garis keras Palestina tetap eksis. Gempuran Israel dan upaya menahan sejumlah pemimpin mereka, tak mengurangi aksi itu sedikitpun.

Satu sumber kegagalan penyelesaian masalah Palestina adalah sikap AS yang menerapkan standar ganda. Di satu sisi, negara Adi daya itu sangat mengecam tindak kekerasan kelompok garis keras Palestina [baca:Presiden AS Mendesak Arafat Menindak Pelaku Terorisme] yang menginginkan Israel keluar dari wilayah mereka. Di sisi lain, AS mendukung pendudukan Israel. Mereka tak mengecam aksi kekerasan terhadap warga dan otoritas pemerintahan Palestina. Amerika juga tak segan-segan memveto setiap resolusi PBB yang memojokkan Israel. Akibatnya, PBB tak berdaya menekan Israel agar mengikuti kehendak mayoritas masyarakat internasional yang menginginkan Israel keluar dari wilayah Palestina.

Israel tetap bersikukuh menduduki wilayah Palestina yang direbutnya sejak Perang Arab-Israel tahun 1967. Berbagai cara ditempuh Israel untuk mempertahankan wilayah ini. Pada umumnya, mereka mengerahkan pasukan dan menggelar kekuatan bersenjata, tanpa mempedulikan kecaman internasional. Setiap saat, pasukan Israel bisa membunuh atau membantai di wilayah pendudukan, tanpa memperhatikan norma-norma internasional dan hak-hak asasi manusia. Amerika kerap menganggap tindakan Israel sebagai bentuk pembelaan diri. Sebaliknya, Washington mendesak warga Palestina menghentikan aksi-aksinya karena Palestina selalu menyulut pertikaian di kawasan Timur Tengah.

Israel gemar berupaya tarik ulur di meja perundingan untuk tetap bercokol di Palestina. Hampir semua perundingan yang digelar terkesan hanya memberi harapan bagi rakyat Palestina. Tak ada kepastian Israel akan memberi konsesi yang memadai atas imbalan yang diberikan otoritas pemerintahan Palestina. Israel juga dengan mudah mengkhianati perjanjian yang telah disepakati bersama jika dianggap merugikan dirinya.

Sayang, negara-negara Arab yang seharusnya bersatu mendukung Palestina, ternyata tak memiliki kata sepakat menyelesaikan masalah ini. Mereka tidak memiliki kehendak kuat agar Palestina menjadi negara merdeka. Sebagian besar negara-negara Timur Tengah beranggapan Negara Palestina merdeka hanya akan mengganggu keseimbangan kekuatan di wilayah itu. Mereka juga mengkhawatirkan Palestina akan mengekspor radikalisme di kawasan ini. Perundingan demi perundingan tak menghasilkan kesepakatan memuaskan [baca:Israel-Palestina Berkukuh, KTT Timteng Gagal].

Rakyat Palestina juga tak menemukan kesepakatan tentang cara mewujudkan negara merdeka. Kedua pilihan yakni jalur diplomatik melalui meja perundingan atau pertempuran di medan perang, berjalan sendiri-sendiri. Hamas dan Jihad al-Islami sebagai kelompok garis keras menginginkan kemerdekaan Palestina diperjuangkan melalui pertempuran. Sedangkan kelompok Yasser Arafat dengan Al-Fatah lebih suka menempuh jalan damai di meja perundingan [baca:Arafat: Hentikan Aksi Bom Bunuh Diri].

Tekanan Israel dan radikalisme faksi-faksi di Palestina membuat posisi Arafat terjepit. Di penghujung tahun ini, pria yang juga dikenal sebagai Abu Ammar itu berada di ujung senjata Israel [baca:Serangan Bom Israel di Sekitar Perkantoran Arafat], bahkan pernah diancam akan dibunuh. Otoritas Palestina tak mampu menghadapi sikap keras kepala Israel yang terus melancarkan serangan membabi buta kepada warga Palestina. Akibatnya, hari demi hari wibawa otoritas Palestina mulai merosot di mata rakyatnya yang menilai kebijakan politik dan militer Arafat terlalu moderat.

Pertikaian memperebutkan wilayah merdeka di tanah tempat Nabi Musa menerima 10 perintah Tuhan itu, menjelma menjadi perselisihan antarbangsa Palestina. Mereka saling membunuh akibat perbedaan pendapat tentang cara mewujudkan negara merdeka. Pertikaian itu diperparah dengan gempuran Israel yang tak pernah berhenti ke wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza, sambil terus memperluas daerah pemukiman bagi bangsa Yahudi. Tampaknya Israel tidak akan bernafas lega jika Bangsa Palestina belum musnah dan terusir dari wilayah yang mereka sebut Yudea-Samaria.(COK/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya