Liputan6.com, Jakarta - Yuyun Siti Kuraesin tak kuasa menahan sakit yang menerjang tubuhnya kala Adam Amrullah membantunya melalui tahapan pengusiran jin saat rukyah. Suara parau dan rintihan keluar dari mulut Yuyun. Bibirnya bergetar saat merasakan ada sesuatu yang mencoba keluar dari bibirnya. Yuyun merupakan satu di antara orang yang kerasukan dan mengalami kesurupan lantaran diganggu roh jahat atau jin.
Fenomena kerasukan atau kesurupan bukan sebuah hal aneh di Indonesia. Banyak berita tentang fenomena tersebut. Malahan, gangguan jin atau roh jahat menjadi pembahasan tersendiri dalam ajaran-ajaran agama, termasuk Islam dan Katolik. Umat Islam dan umat Katolik sama-sama menyakini ada cara untuk mengusir kerasukan jin, setan, atau roh jahat.
Advertisement
Adam Amrullah yang merupakan perukyah mengakui tradisi mengusir roh jahat juga ada dalam Islam. Ini bersandar pada sejarah Nabi Muhammad SAW dan hadis yang disabdakan Rasulullah SAW. Menurut Adam, Nabi Muhammad SAW kerap mengucapkan doa untuk melindungi diri dari hal-hal buruk akibat gangguan setan. Cara ini kerap dilakukan Nabi Muhammad sepanjang hidupnya, bahkan hingga menjelang meninggal. Belakangan, cara demikian disebut dengan rukyah.
“Ketika beliau mau meninggal, sudah berat banget, beliau tetap merukyah,” ucap Ustaz Adam, sapaan akrabnya, kepada Liputan6.com, Selasa (11/10/2016). Adam mengatakan, rukyah harus dibarengi dengan keberserahdirian kepada Yang Maha Kuasa. Sebab, Nabi Muhammad SAW mengingatkan umatnya untuk menyerahkan segala kesusahan dan segala gangguan yang menimpa mereka kepada sang khalik.
Tradisi eksorsisme sudah berlangsung sejak lama. Tradisi ini bersumber kepada Yesus Kristus. Menurut Robini, Yesus mewahyukan di dalam karya-Nya bahwa ia sering mengusir setan. “Ini bisa dilihat di dalam Injil,” ujar Romo Robini, sapaan akrabnya, kepada Liputan6.com.
Ritual ini dilakukan lantaran iman Kristiani memandang keberadaan setan atau roh jahat adalah sesuatu hal yang nyata. Setan, kata Robini, dari awal ingin selalu menguasai dan menghalangi manusia sampai kepada Allah. Maka dia selalu ingin menggoda manusia jatuh ke dalam dosa. Dia menekankan, setiap manusia perlu mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa untuk menghindari gangguan kerasukan. “Karena manusia dan bahkan benda bisa saja dipengaruhi kuasa si jahat (setan),” ucap penulis buku mengenai eksorsisme ini.
Eksorsisme dalam Tradisi Katolik
Umat Katolik mempercayai setan sebagai pihak yang berperan menggiring manusia untuk melakukan dosa. Ini termaktub dalam 1 Taw: 21 Kitab Perjanjian Lama. Romo Robini mengatakan, Kitab Perjanjian Lama bahkan dengan tegas memberikan kesimpulan bahwa setan ingin berusaha menghancurkan manusia dan menggoda manusia untuk berontak melawan Allah.
Pemahaman tersebut diperkuat dalam Kitab Perjanjian Baru. Menurut Robini, Kitab Perjanjian Baru menjelaskan setan ada dan berupa pribadi. Dia bukan lagi personifikasi kejahatan. Manusia bisa jatuh kepada godaan setan dan setan bisa mempengaruhi manusia. “Bahkan dengan terang-terangan dikatakan setanlah yang menghambat keselamatan manusia dan menjatuhkan manusia sejak awal,” ucap Romo Robini.
Robini mengakui fenomena tersebut terjadi di hampir seluruh dunia. Ia mengutip Gabriel Amorth, salah seorang ahli eksorsisme, yang mengatakan ada 20 ribu kasus eksorsisme setiap tahun. Ini membuat institusi Gereja Katolik bersikap. Menurut dia, Vatikan pada 1998 membarui ritual eksorsisme dan di tahun 2000 bahkan mendirikan kursus mengenai eksorsisme di Kolese Regina Apostolorum.
Sekolah setingkat universitas ini, kata dia, dikhususkan untuk memberikan pelatihan bagi para imam dan mereka yang ingin tahu pandangan teologi Katolik tentang eksorsisme. “Harus diakui, di mana sekularisme dan acuh tak acuh kepada iman merajalela, di situ setan akan merajalela juga,” kata Robini.
Tujuan utama dalam eksorsisme ini, diakui Robini, adalah sebagai jalan pembebasan. Eksorsisme mengajak seseorang untuk kembali mengingat pentingnya pertobatan terus menerus. Karena, iman memiliki arti penting bagi kehidupan manusia. “Eksorsisme bukanlah sesuatu yang luar biasa melainkan inti pesan Injil Yesus, yakni pembebasan manusia dari kuasa si Jahat,” kata Robini menegaskan.
Rukyah dalam Tradisi Islam
Kepercayaan akan adanya hal gaib merupakan salah satu rukun iman dalam agama Islam. Kepercayaan ini membuat kaum muslim memahami adanya dunia lain di luar dunia fisik yang dijalani manusia. Dunia di luar hal fisik ini pun diyakini ditempati makhluk gaib. Dalam perjalanannya, ada sebagian dari makhluk gaib ini yang bersinggungan dengan kehidupan manusia.
Seperti dalam tradisi Katolik, Islam menempatkan setan sebagai lawan dari kebaikan. Setan dipahami sebagai sumber dari kejahatan dan keburukan yang menggoda manusia untuk melawan kehendak Allah SWT. Keberadaan setan tak bisa dipungkiri. Sebab, dia bisa bersemayam dalam pikiran, hati, dan tindakan manusia. Setan atau jin jahat pun dipercaya bisa mengganggu kehidupan seorang muslim. Gangguan itu bahkan bisa berupa gangguan mental dan fisik.
Tradisi tersebut, kata Adam, dilangsungkan Nabi Muhammad SAW selama hidupnya. Tradisi tersebut menjadi sunnah Nabi saat sehat dan sakit. Adam mengutip sebuah hadis yang menerangkan, Nabi Muhammad kerap merukyah diri sebelum tidur, yakni dengan membaca surat Al-Ikhlas, surat Al-Falaq, dan surat An-Nas. Tradisi ini, kata Adam, dilakukan Nabi, agar dalam lelapnya tak ada jin-jin jahat yang mengganggu.
Berbeda dengan eksorsisme yang mensyaratkan harus dilakukan oleh seorang imam, rukyah sebenarnya bisa dilakukan mandiri. Syaratnya, kata Adam, hanya berserah diri kepada Allah SWT. Ini pun sering dilakukan Rasulullah SAW. Bahkan hingga akan meninggal, kata Adam, Nabi Muhammad merukyah dirinya dengan dibantu istrinya, Siti Aisyah.“Ditiup ke tangan Rasulullah, terus diusapin pakai tangan Rasulullah oleh Siti Aisyah,” tutur Adam.
Adam menegaskan, hal yang lebih penting dari usaha menangkal dan mengobati gangguan setan terdapat pada individu. Menurut Adam, semua gangguan hanya bisa ditangkal jika orang yang merasa terganggu berserah diri kepada Allah SWT. Adam menegaskan, kesembuhan yang dialami seseorang bukan semata hasil usaha pribadi atau perukyah ataupun dokter yang mengobati fisik, melainkan atas kebesaran dan izin sang Khalik. “Kami hanya membimbing saja,” ucap Adam.