Tarif Pulsa Jadi Penyumbang Inflasi pada September

BI perkirakan inflasi tetap terkendali dan berada pada batas bawah sasaran inflasi pada 2016.

oleh Ilyas Istianur Praditya diperbarui 03 Okt 2016, 20:35 WIB
BI perkirakan inflasi tetap terkendali dan berada pada batas bawah sasaran inflasi pada 2016.

Liputan6.com, Jakarta - Sejalan dengan perkiraan Bank Indonesia (BI), Indeks Harga Konsumen (IHK) pada September 2016 mencatat inflasi sebesar 0,22 persen (mtm).

Inflasi IHK bulan ini cukup terkendali dan sesuai dengan pola historisnya. Dengan perkembangan tersebut, inflasi IHK secara year to date (ytd) dan tahunan (yoy) masing-masing mencapai 1,97 persen (ytd) dan 3,07 persen (yoy).

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Tirta Segara mengungkapkan, inflasi September bersumber dari inflasi pada komponen administered prices (AP) dan komponen inti. Inflasi komponen AP tercatat sebesar 0,14 persen (mtm) atau secara tahunan mengalami deflasi sebesar 0,38 persen (yoy).

"Inflasi AP secara bulanan tersebut terutama bersumber dari kenaikan harga rokok kretek filter, tarif listrik, rokok kretek, rokok putih, dan tarif air minum PAM," kata Tirta dalam keterangan tertulis, Senin (3/10/2016).

Sementara itu, inflasi komponen inti tercatat sebesar  0,33 persen (mtm) atau 3,21 persen (yoy), lebih rendah dari rata-rata inflasi historis pada September. Ini sejalan dengan masih terbatasnya permintaan domestik, harapan inflasi terkendali dan relatif stabilnya nilai tukar rupiah.

"Beberapa komoditas penyumbang inflasi inti adalah tarif pulsa ponsel, tarif sewa rumah, uang kuliah akademi/perguruan tinggi, mobil, nasi dengan lauk, dan tarif kontrak rumah," tambah Tirta.

Di sisi lain, kelompok volatile food (VF) tercatat mengalami deflasi sebesar 0,09 persen (mtm) atau secara tahunan mengalami inflasi sebesar 6,51 persen (yoy).

Deflasi tersebut terutama bersumber dari koreksi harga komoditas telur ayam ras, daging ayam ras, wortel, cabai rawit, bayam, kangkung, dan kentang.

Ke depan, Tirta menuturkan, inflasi diperkirakan tetap terkendali dan berada pada batas bawah sasaran inflasi 2016, yaitu 4 persen plus minus satu persen (yoy).

Menurut Tirta, koordinasi kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia dalam mengendalikan inflasi akan terus dilakukan, khususnya mewaspadai tekanan inflasi VF akibat dampak fenomena La Nina.

"Koordinasi Pemerintah dan Bank Indonesia akan difokuskan pada upaya menjamin pasokan dan distribusi, khususnya berbagai bahan kebutuhan pokok, dan menjaga ekspektasi inflasi," tutur dia. (Yas/Ahm)

 


    

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya