Noda-Noda PON Jabar, dari Tawuran di Air hingga Mogok Bertanding

Pekan Olahraga Nasional (PON) Jabar diwarnai sederet aksi memalukan. Apa saja?

oleh Marco TampubolonDiterbitkan 20 September 2016, 16:10 WIB
Tawuran Polo Air menodai PON Jabar 2016

Liputan6.com, Jakarta Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX sudah memasuki hari ketiga setelah resmi dibuka di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Sabtu (17/9/2016). Sejauh ini, tuan rumah Jawa Barat masih memimpin perolehan medali.

DKI Jakarta membuntuti di posisi kedua, sementara urutan ketiga masih ditempati oleh kontingen Jatim.

PON adalah ajang bagi atlet-atlet dari daerah bersaing untuk jadi yang terbaik di Tanah Air. Mereka bertarung untuk memperebutkan keping demi keping medali dari cabang olahraga yang dipertandingkan.

Sayangnya perjuangan para atlet harus diwarnai sejumlah insiden memalukan. Tawuran antarpemain hingga aksi mogok bertanding telah menodai arena PON XIX 2016. Dari segi penyelenggaraan, sejumlah kendala juga masih menghantui. Mulai dari sarana informasi yang tidak memadai hingga venue yang bermasalah.

Berikut ini beberapa noda yang mengotori PON Jabar 2016:

1. Perkelahian suporter
Tawuran antarsuporter pecah saat DKI Jakarta berhadapan dengan Jawa Barat di Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor, Minggu, 18 September 2016. Saat itu, kedua tim bertemu di babak penyisihan grup. 

Beruntung insiden ini mampu dikendalikan oleh petugas keamanan yang terdiri dari polisi dan tentara. Akibat insiden ini, kick off babak kedua sempat tertunda selama 20 menit. Jabar akhirnya menang dengan skor 2-0. Dua gol kemenangan tuan rumah Jabar dicetak oleh Angga Febryanto Putra (5) dan Heri Susanto (22).

DKI akhirnya tersingkir, sementara Jabar melaju ke babak 8 besar.


Mogok Bertanding

Cabang Judo di PON Jabar diwarnai aksi mogok bertanding

2. Mogok Bertanding
Kinerja wasit menjadi sorotan di cabang olahraga judo yang berlangsung di GOR Saparua. Puncaknya, Senin (19/9/2016), sejumlah kontingen, termasuk DKI Jakarta dan Jawa Timur, memutuskan mogok bertanding.

Kontingen Jatim melancarkan aksi mogok dengan tidak datang ke venue pertandingan. Sedangkan kontingen DKI yang dijadwalkan turun melawan Banten di nomor beregu putra tetap datang, tapi tidak bertanding. DKI ke arena hanya untuk memberikan hormat, lalu turun dan meninggalkan venue.

Ketua Bidang Hukum KONI Jatim, Amir Burhanuddin, menjelaskan aksi mogok ini merupakan kelanjutan dari protes di nomor kata (seni) pada Minggu (18/9/2016).

Lanjut Baca:

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya