Turis Asing Bikin Ulah, Ini Komentar PHRI Bali

Mulai dari Amokrane Sabet hingga seorang turis Jerman bernama Benyamin yang mengemis untuk foya-foya.‎

oleh Dewi Divianta diperbarui 13 Sep 2016, 09:01 WIB
Turis mancanegara berjalan di kawasan Monumen Ground Zero di Jalan Legian, Kuta, Bali. (Yudha Maruta/Liputan6.com)

Liputan6.com, Denpasar - Belakangan ini, beberapa turis asing yang berlibur ke Pulau Bali membuat keonaran. Mulai dari petarung MMA (Mix Martial Art) Amokrane Sabet yang disebut-sebut sering makan tanpa membayar hingga akhirnya membunuh polisi. David dan Sara, duo sejoli asal Inggris dan Australia yang membunuh polisi di Pantai Kuta, hingga seorang turis Jerman bernama Benyamin yang mengemis untuk foya-foya.‎

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Bali, ‎Cokorda Oka Artha Ardhana Sukawati alias Cok Ace menjelaskan, beberapa pihak menyebut banyaknya turis yang membuat ulah di Bali berkaitan dengan kebijakan pemerintah tentang bebas visa.

"Memang ada beberapa pihak mengaitkan dengan bebas visa. Tapi, saya tidak setuju 100 persen dengan hal tersebut ya. Saya kira yang terjadi di Bali, karena memang ada ruang-ruang bagi mereka untuk mereka bisa tampil seperti itu apa adanya," ucap Cok Ace saat dihubungi Liputan6.com, Senin, 12 September 2016.‎

Dia menduga, turis yang membuat ulah di Bali, lantaran tak bisa melakukan hal itu di negara asalnya. ‎"Saya yakin di negara asalnya, kebebasan seperti itu tidak mereka dapatkan."

Pria asal Gianyar ini mengaku komponen pariwisata telah memprediksi sejak lama tentang turis yang akan membuat ulah di Bali jika Pulau Seribu Pura 'dijual' sedemikian murah.

"Ini hal yang dari dulu, kami komponen pariwisata sudah mewanti-wanti. Jangan sampai Bali itu menarik gara-gara bebas dan murah. Itu predikat yang sama sekali tidak membanggakan kita semua," ujar dia.‎

Sebab, menurut Cok Ace, ada ruang yang menurut mereka bisa menyalurkan seperti mengemis dan naik motor bertiga tanpa helm. "Itu kan bentuk kebebasan yang mereka dapatkan di Pulau Bali ini."

"Menurut saya sih ini perlu tindakan tegas saja. Jangan kita biarkan wisatawan berbuat sesukanya dia," ucap dia.

Terlebih, imbuh Cok Ace, ketiadaan ketegasan dari aparatur terkait yang membuat turis asing seolah bisa berbuat seenaknya. Jika saja tindakan tegas itu ada, dengan sendirinya mereka akan menghormati dan tidak berbuat sembarangan.

"‎Aturan main itu tidak usah diucapkan, tidak usah ditulis. Kalau memang mereka melihat suasana yang khidmat, yang beretika, dengan sendirinya aturan main itu mereka hormati. Tanpa ditulis peraturan itu bisa mereka dihargai. Contohnya seperti kenapa orang masuk ke tempat suci bisa khidmatnya, begitulah kira-kira," Ketua PHRI Bali memungkasi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya