KOLOM: Menakar Trofi Ancelotti di Muenchen

Simak ulasan Asep Ginanjar terkait misi Carlo Ancelotti di Bayern Muenchen musim ini.

oleh Liputan6Diterbitkan 26 Agustus 2016, 08:10 WIB
Kolom Bola Asep Ginanjar (grafis: Abdillah/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Pekan ini, Bundesliga musim 2016-17 mulai bergulir. Seperti musim-musim sebelumnya, lagu yang sama berkumandang. Lagu tentang tak akan terbendungnya Bayern Muenchen dalam perburuan juara. Mayoritas pelatih klub-klub Bundesliga lagi-lagi sepakat akan hal itu. Kali ini, hanya Pal Dardai (Hertha BSC) dan Viktor Skripnik (Werder Bremen) yang tak menjagokan Bayern Muenchen. Mereka sama-sama memfavoritkan Bayer Leverkusen.
Lothar Matthaeus, eks kapten timnas Jerman, dalam kolomnya di SportBild juga secara gamblang memprediksi Bayern akan kembali juara seperti musim lalu. “Bayern akan memenangi Bundesliga untuk kali kelima secara beruntun dengan keunggulan 10 poin,” kata dia. “Ada tiga alasan. Pertama, skuat mereka kian kuat. Kedua, Carlo Ancelotti membawa dorongan baru bagi tim. Ketiga, Uli Hoeness kembali.”

Merebut gelar juara Bundesliga memang termasuk keharusan bagi Bayern. Setiap musim, kata Thomas Mueller, target Die Roten selalu sama, yakni memenangi semua kompetisi yang diikuti. Jadi, bukan sebuah keistimewaan bagi Ancelotti bila pada akhir musim nanti timnya memang finis di posisi teratas.

Untuk bisa disebut sukses, Ancelotti harus mengguratkan hal luar biasa. Unggul sepuluh poin atau sama dengan musim lalu seperti yang diprediksi Matthaeus tentu bukan catatan istimewa. Beda halnya bila sanggup melewati rekor keunggulan 25 poin yang ditorehkan Jupp Heynckes pada 2012-13.

Akan lebih hebat lagi bila Bayern bisa melakoni musim tanpa kekalahan. Sepanjang sejarah Bundesliga, belum pernah ada klub yang juara tanpa mengalami sekali pun kekalahan. Josep Guardiola sebenarnya hampir saja mengguratkan sejarah itu andai tak “melepas” partai-partai sesudah Bayern memastikan juara pada 2013-14.

Bayern Muenchen (REUTERS/Hannibal Hanschke)

Mengingat Bayern musim ini berhasil mendatangkan Mats Hummels, kans Die Roten untuk unbeaten di Bundesliga terbilang besar. Bukankah beberapa pihak menilai kombinasi Hummels dengan kapten Lahm, Jerome Boateng dan David Alaba di pertahanan Bayern akan membuat kiper Manuel Neuer bisa berleha-leha di bawah mistar gawang?

Efek kehadiran Hummels ini sangat layak untuk dinantikan. Patut dicatat, musim lalu saja Bayern hanya kebobolan 17 gol sepanjang musim dan Neuer tak kebobolan dalam 20 pertandingan. Seiring kedatangan Hummels, sangat pantas bila ada yang membayangkan Bayern kebobolan lebih sedikit lagi atau malah tak kebobolan sepanjang musim.

Lanjut Baca:

Di samping guratan rekor baru, hal luar biasa yang perlu dilakukan Ancelotti tentu saja melewati prestasi Guardiola, sang pendahulu. Setidaknya ada dua hal yang bisa membuat Ancelotti segera disebut lebih baik dari pelatih asal Katalonia tersebut.Pertama, tentu saja menjuarai Liga Champions. Dalam tiga musim di Bayern, Guardiola selalu gagal mempersembahkan trofi Big Ear. Die Roten selalu kandas di semifinal, disingkirkan klub-klub asal Spanyol yang mestinya sudah sangat dipahami Guardiola.Ancelotti punya modal baik di ajang ini. Sebagai pelatih, tiga kali dia merebut trofi Big Ear. Bersama Bob Paisley, dialah pelatih dengan koleksi trofi Liga Champions terbanyak. Ketika Bayern memastikan dia sebagai pengganti Guardiola, publik sepak bola pun mafhum bahwa Die Roten kali ini membidik Liga Champions.Hal kedua adalah meraih treble winners. Dalam tiga musim, ini juga gagal digapai Guardiola. Padahal, dengan warisan skuat hebat yang merebut treble winners musim 2012-13, dia sangat diharapkan para fans untuk mengulangi hal itu, setidaknya sekali saja selama di Bayern. Guardiola memang sempat mengatakan,dirinya bukan sosok yang tepat jika Bayern menginginkan treble winners setiap musim. Namun, pada musim terakhirnya, dia secara gamblang mengakui, hanya treble winners yang akan membuatnya disebut sukses di Bayern. Hal serupa tentunya berlaku bagi Ancelotti.Secara pribadi, treble winners seharusnya menjadi target menarik bagi Carletto. Sepanjang kariernya sebagai pemain dan pelatih yang diwarnai banyak trofi, prestasi terbaiknya hanyalah double winners. Tiga kali dia nyaris membukukan treble winners. Semuanya saat berstatus pelatih.Pada 2002-03, di AC Milan, treble winners gagal diraih karena kegagalan juara di Serie-A. Itu sama dengan musim 2013-14 di Real Madrid. Carletto hanya sanggup membawa Los Blancos juara Liga Champions dan Copa Del Rey. Sementara itu, di Chelsea pada 2009-10, giliran trofi Big Ear yang gagal direngkuhnya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya