Harga Minyak Terus Melonjak

Harga minyak mentah Brent yang menjadi patokan harga minyak dunia ditutup naik 88 sen atau 1,8 persen.

oleh Arthur Gideon diperbarui 17 Agu 2016, 05:05 WIB
Harga minyak mentah Brent yang menjadi patokan harga minyak dunia ditutup naik 88 sen atau 1,8 persen.

Liputan6.com, New York - Harga minyak ditutup menguat hampir dua persen pada perdagangan Selasa (Rabu pagi waktu Jakarta). Pendorong kenaikan harga minyak adalah keluarnya pernyataan dari Arab Saudi yang menginginkan untuk mendorong kenaikan harga minyak dan Rusia yang akan bertemu dengan negara-negara produsen minyak untuk membahas mengenai pasar minyak dunia.

Mengutip Reuters, Rabu (17/8/2016), harga minyak mentah Brent yang menjadi patokan harga minyak dunia ditutup naik 88 sen atau 1,8 persen dan menetap di angka US$ 49,23 per barel. Harga minyak Bent ini mendekati rekor level tertinggi di tahun ini yang berada di angka US$ 49,36 per barel.

Sedangkan harga minyak mentah AS West Texas Intermediate naik 84 sen atau 1,8 persen dan menetap di angka US$ 46,58 per barel. Angka ini juga dekati level tertinggi di tahun ini yang berada di angka US$ 46,73 per barel.

Organisasi negara-negara pengekspor minyak atau OPEC kemungkinan besar akan kembali menggelar pertemuan untuk membahas mengenai harga minyak. Ada usulan untuk menahan produksi sehingga bisa mendorong harga minyak ke level yang lebih tinggi.

Rencana tersebut akan dibawa dalam pertemuan antara OPEC dengan negara-negara non-OPEC yang bakal berlangsung pada bulan depan atau September nanti. Sumber OPEC di Reuters mengungkapkan bahwa Arab Saudi sangat menginginkan agar harga minyak bisa lebih tinggi dari kisaran yang ada saat ini.

OPEC juga akan bertemu dengan Rusia. Pertemuan tersebut akan berlangsung pada Oktober nanti. Dalam pertemuan tersebut juga akan membahas mengenai kestabilan harga minyak.

Sejak dua tahun ini harga minyak memang tertekan. Pada pertengahan 2014 lalu harga minyak sempat menyentuh angka US$ 110 per barel. Namun karena produksi yang terlalu tinggi jika dibanding permintaan, harga minyak terus melorot hingga ke kisaran US$ 30 per barel.

"Meskipun kami mencoba untuk mengabaikan rencana pertemuan tersebut tetapi momentum yang ada memang mendorong harga minyak untuk menghijau," jelas analis Ritterbusch & Associates,Jim Ritterbusch.

Selain rencana pertemuan tersebut, harga minyak di Amerika Serikat akan dipengaruhi akan data simpanan yang bakal keluar pada Rabu waktu setempat. (Gdn/Ndw)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya