Liputan6.com, Jakarta: Seorang perempuan muda duduk di kursi sambil menyalakan sebatang rokok. Berkali-kali diisap, sepanjang itu pula perempuan yang menjadi tokoh utama di film At The Very Bottom of Everything (Di Dasar Segalanya) menuturkan kisahnya. Artis Kartika Jahja, tokoh perempuan di film, menggambarkan secara detail penyakit bipolar disorder yang dideritanya.
"Film ini berusaha melihat ke dalam kepala si penderita disorder," jelas Paul Agusta, sutradara At The Very Bottom of Everything di Bioskop 21 Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (17/12) siang. Agusta membuka pemutaran perdana film At The Very Bottom of Everything yang turut dihadiri para pemeran film, di antaranya Teuku Rifnu Wikana (Laskar Pelangi dan Merah Putih) dan wartawan berbagai media.
Dalam film, Kartika menceritakan perjuangannya lepas dari usaha bunuh diri. Tiap rincian cerita dibagi menjadi sepuluh bagian, masing-masing menggambarkan penyakit secara verbal, visual, dan sinematis. Visual digambarkan menggunakan animasi stop motion. Cerita terus berjalan hingga memakan durasi film 90 menit.
Sementara musik yang ditampilkan sepenuhnya dari musisi lokal, yang secara garis besar bekerja di luar perusahaan rekaman mainstream. Masing-masing diberi kesempatan untuk menciptakan lagu sesuai bagian naskah.
At The Very Bottom of Everything adalah produksi Kinekuma Pictures (sebelumnya dikenal House of Waves Productions), sebuah rumah produksi independen yang sedang naik daun dan inovatif. Pembuatan film bekerja sama dengan PT Visi Integra Media (vi.em). Film ini sebagian besar didanai Digital Production Fund milik Hubert Bals Fund yang berasal dari International Film Festival Rotterdam-Belanda.
Nantinya film At The Very Bottom of Everything akan ditayangkan pula di Rotterdam International Film Festival 2010. Ajang itu akan diadakan pada 27 Januari hingga 7 Februari 2010. Film juga direncanakan diputar di 10 kota di Indonesia pada Maret tahun depan. Film ini merupakan yang kedua setelah The Anniversary Gift (Kado Hari Jadi).
Agusta terkenal dengan pandangan provokatif, bahkan radikal, di setiap film buatannya. Dan sekali lagi, ia melanjutkan eksplorasi eksperimentalnya dengan mendobrak paradigma tradisional yang telah berakar dalam perfilman Indonesia. Agusta berharap film ini lebih baik dari film sebelumnya. Bujetnya sepuluh kali lipat dari Kado Hari Jadi. "Jadi semoga bisa lebih rapi," tambah Agusta.
Sedikit mengenai bipolar disorder. Penyakit ini merupakan gangguan emosi yang ditandai perubahan mood secara ekstrem dan mendadak. Saat di penderita senang maka akan diekspresikan secara total. Sebaliknya, bila emosi tertekan maka si penderita akan mengalami depresi yang puncaknya memilih bunuh diri. Bisa dibilang, si penderita mempunyai dua penyakit dalam satu paket.(AIS/ANS)
"Film ini berusaha melihat ke dalam kepala si penderita disorder," jelas Paul Agusta, sutradara At The Very Bottom of Everything di Bioskop 21 Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (17/12) siang. Agusta membuka pemutaran perdana film At The Very Bottom of Everything yang turut dihadiri para pemeran film, di antaranya Teuku Rifnu Wikana (Laskar Pelangi dan Merah Putih) dan wartawan berbagai media.
Dalam film, Kartika menceritakan perjuangannya lepas dari usaha bunuh diri. Tiap rincian cerita dibagi menjadi sepuluh bagian, masing-masing menggambarkan penyakit secara verbal, visual, dan sinematis. Visual digambarkan menggunakan animasi stop motion. Cerita terus berjalan hingga memakan durasi film 90 menit.
Sementara musik yang ditampilkan sepenuhnya dari musisi lokal, yang secara garis besar bekerja di luar perusahaan rekaman mainstream. Masing-masing diberi kesempatan untuk menciptakan lagu sesuai bagian naskah.
At The Very Bottom of Everything adalah produksi Kinekuma Pictures (sebelumnya dikenal House of Waves Productions), sebuah rumah produksi independen yang sedang naik daun dan inovatif. Pembuatan film bekerja sama dengan PT Visi Integra Media (vi.em). Film ini sebagian besar didanai Digital Production Fund milik Hubert Bals Fund yang berasal dari International Film Festival Rotterdam-Belanda.
Nantinya film At The Very Bottom of Everything akan ditayangkan pula di Rotterdam International Film Festival 2010. Ajang itu akan diadakan pada 27 Januari hingga 7 Februari 2010. Film juga direncanakan diputar di 10 kota di Indonesia pada Maret tahun depan. Film ini merupakan yang kedua setelah The Anniversary Gift (Kado Hari Jadi).
Agusta terkenal dengan pandangan provokatif, bahkan radikal, di setiap film buatannya. Dan sekali lagi, ia melanjutkan eksplorasi eksperimentalnya dengan mendobrak paradigma tradisional yang telah berakar dalam perfilman Indonesia. Agusta berharap film ini lebih baik dari film sebelumnya. Bujetnya sepuluh kali lipat dari Kado Hari Jadi. "Jadi semoga bisa lebih rapi," tambah Agusta.
Sedikit mengenai bipolar disorder. Penyakit ini merupakan gangguan emosi yang ditandai perubahan mood secara ekstrem dan mendadak. Saat di penderita senang maka akan diekspresikan secara total. Sebaliknya, bila emosi tertekan maka si penderita akan mengalami depresi yang puncaknya memilih bunuh diri. Bisa dibilang, si penderita mempunyai dua penyakit dalam satu paket.(AIS/ANS)