Liputan6.com, Jakarta: Mantan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (1964-1966) Ahmad Dahlan Ranuwihardjo, Kamis (13/12) sekitar pukul 23.15 WIB meninggal dunia di Rumah Sakit Yayasan Jantung Harapan Kita, Jakarta Barat, karena gagal ginjal. Dahlan yang dikenal sebagai cendekiawan muslim meninggalkan seorang istri dan enam orang anak. Ia meninggal dalam usia 76 tahun.
Menurut seorang putrinya, Dhani Dahlan, almarhum terkenal sebagai sosok pejuang yang tak kenal lelah. Sang ayah pernah bergabung dalam Pelajar Angkatan Perang (PAP) dan dipercaya sebagai Komandan Kompi Mahasiswa Brigade XVII TNI yang bertugas di Markas Ronggolawe I, Lamongan (1947-1949). Saat itu, Dahlan masih menimba ilmu di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Dahlan Ranuwihardjo lahir di Kota Batik, Pekalongan, 13 Desember 1925. Pendidikan hukumnya diselesaikan di Universitas Indonesia, 1963. Masa mudanya sebagai aktivis mahasiswa membuat Dahlan dekat dengan sejumlah tokoh elite pemerintahan, termasuk mantan Presiden Soekarno.
Almarhum adalah sedikit dari pelaku dan saksi sejarah yang aktif mengamati Ketatanegaraan Indonesia. Sebelum wafat, keponakan Mr. Mohammad Roem --tokoh perundingan Roem-Van Royen-- itu sempat mengabdikan diri pada pendidikan, di antaranya sebagai anggota Dewan Kurator Universitas Bung Karno dan dosen bahasa Belanda di Universitas Nasional, Jakarta. Ia juga sempat mejadi Ketua Panitia Peringatan 100 Tahun Bung Karno.(ULF/Imelda Sari dan Joseph H.L.)
Menurut seorang putrinya, Dhani Dahlan, almarhum terkenal sebagai sosok pejuang yang tak kenal lelah. Sang ayah pernah bergabung dalam Pelajar Angkatan Perang (PAP) dan dipercaya sebagai Komandan Kompi Mahasiswa Brigade XVII TNI yang bertugas di Markas Ronggolawe I, Lamongan (1947-1949). Saat itu, Dahlan masih menimba ilmu di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Dahlan Ranuwihardjo lahir di Kota Batik, Pekalongan, 13 Desember 1925. Pendidikan hukumnya diselesaikan di Universitas Indonesia, 1963. Masa mudanya sebagai aktivis mahasiswa membuat Dahlan dekat dengan sejumlah tokoh elite pemerintahan, termasuk mantan Presiden Soekarno.
Almarhum adalah sedikit dari pelaku dan saksi sejarah yang aktif mengamati Ketatanegaraan Indonesia. Sebelum wafat, keponakan Mr. Mohammad Roem --tokoh perundingan Roem-Van Royen-- itu sempat mengabdikan diri pada pendidikan, di antaranya sebagai anggota Dewan Kurator Universitas Bung Karno dan dosen bahasa Belanda di Universitas Nasional, Jakarta. Ia juga sempat mejadi Ketua Panitia Peringatan 100 Tahun Bung Karno.(ULF/Imelda Sari dan Joseph H.L.)