Kolom: Piala Eropa dan Nestapa Buruh Cinta

Simak ulasan Asep Ginanjar soal Piala Eropa dan banyaknya pemain bintang yang cedera.

oleh Liputan6Diterbitkan 03 Juni 2016, 08:10 WIB
Kolom Bola Asep Ginanjar (Liputan6.com/Abdillah)

Liputan6.com, Jakarta - Sungguh malang nasib Marco Reus. Impiannya bermain di Piala Eropa 2016 harus dikubur dalam-dalam. Selasa (31/05/2016), dia termasuk dalam empat nama yang dicoret pelatih timnas Jerman, Joachim Loew. Pencoretan itu terasa meyesakkan karena bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-27.

Baca Juga

  • Alves Gabung Juventus, Barcelona Sudah Dapat Pengganti
  • Inggris Calon Kuat Juara Piala Eropa
  • Tiara/Rizki Beber Resep Hajar Juara Olimpiade di Indonesia Open

Hati Reus tentu remuk redam. Dua tahun lalu, dia juga mengalami hal serupa. Gara-gara cedera pada uji tanding kontra Armenia, dia urung berangkat ke Brasil, tempat gelaran Piala Dunia 2014.

Dia pun gagal tercatat sebagai juara dunia. Kostum yang dibentangkan sahabatnya, Mario Goetze, saat perayaan juara, tetap saja tak berarti karena dia tak menggenggam medali tanda sahih sang peraih trofi.

Seperti dua tahun lalu, cedera pula yang menggagalkan langkah Reus ke Prancis kali ini. Peradangan otot pangkal paha dinyatakan tim dokter Jerman tak akan pulih selama gelaran Piala Eropa. Saat konferensi pers pencoretan Reus, Karim Bellarabi, Sebastian Rudy, dan Julian Brandt, Loew mengatakan, Reus hanya bisa berlari lurus.

Sehari usai pencoretan itu, Marcus Sorg, asisten Loew, menyatakan bahwa problem yang dialami Reus telah berlangsung lama. Dalam beberapa bulan terakhir, eks penggawa Borussia Moenchengladbach itu memang menjalani terapi khusus di bawah pengawasan dokter spesialis asal Belanda, Hub Westhovens.

Gelandang Borussia Dortmund asal Jerman, Marco Reus. (AFP/Tobias Schwarz)

Lanjut Baca:

Ruhr Nachrichten menengarai cedera bintang Borussia Dortmund tersebut “kambuh” gara-gara pertandingan final DFB Pokal melawan Bayern Muenchen yang alot dan harus berlangsung 120 menit. “Dengan cedera seperti itu, asalkan bisa mengontrol rasa sakit, Anda akan tetap bisa bermain. Namun, itu berisiko memperburuk kondisi,” jelas eks dokter sebuah klub Bundesliga yang tak disebutkan namanya.Lebih jauh, sang dokter mengatakan, cedera seperti yang dialami Reus susah diprediksi. “Sulit mendiagnosisnya. Satu hal yang pasti, dibutuhkan waktu (pemulihan) beberapa pekan atau bahkan beberapa bulan,” terang dia lagi.Sepanjang musim 2015-16, berdasarkan catatan Transfermarkt.de, setidaknya empat kali cedera itu dialami Reus. Peradangan yang kian kronis sangat mungkin dipicu oleh putusannya tak mengambil istirahat panjang. Paling lama, dia hanya absen selama 17 hari.Makin RawanCedera memang risiko yang harus dihadapi setiap pesepak bola. Seiring makin banyaknya pertandingan yang harus dijalani setiap musim, risiko itu tentu saja meningkat. Bukan hanya karena potensi benturan yang bertambah, melainkan juga karena pendeknya masa recovery. Usai Piala Dunia, Loew sempat berujar, "Beban para pemain saat ini kian berat. Tuntutan klub di liga domestik dan Liga Champions sangat tinggi. Mereka butuh waktu istirahat yang cukup."Sebagai contoh, sepanjang 2015-16, Dortmund melakoni 56 laga di semua kompetisi resmi yang diikuti. Bila ditambah uji tanding saat pramusim dan jeda musim dingin, itu bertambah menjadi 66 pertandingan. Sementara itu, timnas Jerman melakoni 10 laga. Artinya, bila tak pernah absen, Reus akan tampil 76 kali hingga jelang Piala Eropa. Itu artinya, rata-rata dia tampil setiap lima hari sekali. Hal serupa juga dihadapi para pemain bintang lainnya yang membela klub-klub teras Eropa. Termasuk mayoritas pemain yang akan berjibaku di Piala Eropa nanti. Setidaknya, mereka harus melakoni 50 hingga 60 laga setiap musimnya. Sejatinya, karena digelar usai kompetisi domestik di mayoritas negara Eropa, Piala Eropa adalah ajang unjuk kemampuan terbaik para bintang. Namun, dengan energi yang telah terkuras, rasanya kian sulit melihat hal itu terwujud. Sulit berharap penampilan-penampilan istimewa karena para pemain datang hanya dengan sisa-sisa kekuatan. Jadwal padat klub membuat mereka bak robot-robot yang kehabisan baterai.Itu tak bisa dibantah. Tengok saja laga final DFB Pokal yang dilakoni Reus lalu. Dalam laga tersebut, Franck Ribery harus meninggalkan lapangan sambil menyeret kakinya. Lalu, Pierre-Emerick Aubameyang mengalami kejang otot usai menunaikan tugasnya sebagai algojo dalam adu penalti.Di Piala Eropa nanti, karena antusiasme dan euforia yang tercipta, performa ciamik para bintang dan tim-tim favorit masih mungkin tersuguh pada laga-laga awal. Namun, berharap mereka menunjukkan konsistensi performa hingga final sepertinya terlalu berlebihan. Apalagi berharap pertarungan sengit di final.Patut dicatat, untuk mengangkat Trofi Henry Delaunay, sebuah tim harus melakoni tujuh laga. Sebagai konsekuensi penambahan peserta dari 16 menjadi 24 tim, ada tambahan satu fase, yakni babak 16 besar. Sebelumnya, dari 1996 hingga 2012, sebuah tim cukup menjalani enam laga untuk juara. Sebelum 1996, tim juara bahkan hanya cukup menjalani lima pertandingan. Tiga di fase grup, satu di semifinal, dan satu di final.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya