Minyak Dunia Diramal Sentuh US$ 60 per Barel di 2017

Harga minyak dunia diperkirakan akan mengalami kenaikan, bahkan kenaikannya mencapai US$ 60 per barel pada awal 2017.

oleh Pebrianto Eko Wicaksono diperbarui 11 Mei 2016, 09:48 WIB
Ilustrasi Tambang Minyak (iStock)

Liputan6.com, Jakarta Harga minyak dunia diperkirakan akan mengalami kenaikan, bahkan kenaikannya mencapai US$ 60 per barel pada awal 2017. Penyebabnya adalah kenaikan konsumsi dan menurunnya permintaan.

Direktur Eksekutif Indonesia Resources Studies (Irres), Marwan Batubara ‎mengatakan, harga minyak dunia yang terendah telah dilewati. Dia meramal ini saatnya harga akan merangkak naik ke level US$ 60 per barel pada tahun depan.

‎"Yang disampaikan World Bank harga minyak US$ 48 kita sudah lewati harga terendah, kemudian akan naik di akhir tahun US$ 50 per barel awal tahun depan US$ 60 per barel. Saya kira tahun depan sudah oke berangkat pengalaman 50 tahun lalu," kata Marwan, di Jakarta, Rabu (11/5/2016).

Menurut Marwan, anjloknya harga minyak dunia disebabkan ‎kelebihan pasokan dan Penurunan permintaan karena beberapa negara yang konsumsi minyaknya besar melakukan efisiensi dan menggunakan Energi Baru Terbarukan (EBT).

"Penyebab faktor supply dan demand, tapi supply melimpah ada banjir minyak meskipun demand ada penurunan permintaan,‎" ungkap Marwan.

Sebelumnya, Indonesian Petroleum Association (IPA) menyatakan kondisi penurunan harga minyak dunia yang terjadi belakangan ini membuat pelaku industri hulu minyak dan gas bumi (migas) mengencangkan ikat pinggang.

Sekretaris ‎IPA Ronald Gunawan mengatakan, industri hulu migas mengkaji ulang berbagai rencana kegiatannya yang berujung pada penundaan beberapa proyek agar bisa bertahan ditengah kondisi penurunan harga minyak dunia

"Kita kencangkan ikat pinggang. Kita lihat opex dan Capex. Kita restruktur juga, salah satunya beberapa proyek terpaksa kita delay. Intinya agar bisa survive," ungkap Ronal.

 

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya