RNI Gandeng Brantas Abipraya Kembangkan Pembangkit Hidro Mini

PLTMH Liki-Mitra Kerinci dibangun dengan menggunakan metode run off river atau memanfaatkan aliran sungai sebagai sumber energinya.

oleh Arthur Gideon diperbarui 23 Mar 2016, 20:17 WIB
(Foto: Ilustrasi RNI)

Liputan6.com, Jakarta - PT Mitra Kerinci yang merupakan anak perusahaan dari PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) menjalin kerja sama dengan PT Brantas Energi, yang merupakan anak perusahaan dari PT Brantas Abipraya. Dalam kerja sama ini, kedua belah pihak sepakat untuk mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro (PLTMH), di Solok Selatan, Sumatera Barat.

Direktur Utama RNI B Didik Prasetyo mengatakan, langkah kerja sama yang dilakukan antara kedua belah pihak merupakan langkah mewujudkan program percepatan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan untuk memenuhi target pembangunan pembangkit listrik 35.000 MW sampai tahun 2019.

"Selain itu juga untuk mewujudkan program pemerintah dalam pengembangan energi terbarukan yang ditargetkan mampu memenuhi pasokan 25 persen dari kebutuhan listrik nasional," jelasnya dalam keterangan tertulis, Rabu (23/3/2016).

Ia melanjutkan, pembangunan pembangkit listrik ini menggunakan skema Sinergi BUMN dengan menggandeng PT Brantas Abipraya sebagai partner dalam proses pembangunan. PT Brantas Abipraya menunjuk anak perusahaannya PT Brantas Energi untuk melakukan pembangunan.

Dengan menggabungkan dua kemampuan yang dimiliki kedua BUMN ini, dimana RNI memiliki kekayaan air terjun dan sungai yang dikelola oleh PT Mitra Kerinci dan PT Brantas Abipraya melalui PT Brantas Energi memiliki kemampuan dan pengalaman bertahun-tahun dalam pengelolaan bendungan dan pembangkit listrik, diharapkan akan tercipta sinergi untuk menggerakkan perekonomian melalui kemandirian energi yang bersumber pada potensi domestik.

Lebih lanjut, Didik mengatakan, melalui kemandirian energi diharapkan mampu menggerakkan potensi ekonomi masyarakat sekitar. “Terpenuhinya pasokan listrik bukan hanya bisa membantu kegiatan sehari-hari, tetapi juga akan menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat sehingga masyarakat lebih berdaya dan mandiri,” katanya.

Direktur PT Mitra Kerinci Yosdian Adi mengatakan, saat ini kebutuhan listrik di Solok Selatan sudah sangat mendesak, apalagi setelah dua PLTA milik Selo Kencana Energi dan Waskita Energi rusak diterjang banjir bandang. “Praktis di pabrik listrik PLN hanya mampu beroperasi 6 jam, sisanya dari jenset,” ujarnya.

Lebih lanjut, Yosdian menjelaskan, pembangunan PLTMH ini akan dilakukan di empat titik. Total kapasitas energi listrik yang bisa diperolah dari keempat titik ini sekitar 15,8 MW dengan rencana total investasi sebesar Rp 460 milyar. Seluruh daya yang diperoleh akan dijual langsung ke PLN.

Menurut Yosdian, PLTMH Liki-Mitra Kerinci dibangun dengan menggunakan metode run off river atau memanfaatkan aliran sungai sebagai sumber energinya. “Kami memanfaatkan aliran sungai Lambai dan Belangir yang terletak di dalam areal kebun teh kami,” ujarnya. (Gdn/ndw)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya