6 Jebolan La Masia Barcelona Layu Sebelum Berkembang

Assulin tidak disipilin, Crosas kalah bersaing dengan Iniesta dan Xavi di lini tengah Barcelona.

oleh Edu KrisnadefaDiterbitkan 24 Februari 2016, 09:30 WIB
Marc Crosas salah satu jebolan Akademi La Masia yang gagal menembus tim utama Barcelona. (es.eurosport.yahoo)

Liputan6.com, Barcelona - Akademi sepak bola milik Barcelona, La Masia, sudah lama terkenal sebagai penghasil talenta-talenta berbakat yang kemudian muncul sebagai superstar. Nama-nama seperti Lionel Messi, Anders Iniesta, serta Xavi Hernandez, semuanya berasal dari La Masia.

Baca Juga

  • Ceroboh, Suarez Ketinggalan Paspor Jelang Terbang ke London
  • Mobil-mobil yang Mengantar Rio Haryanto Hingga ke Formula 1
  • Saat Anang Hermansyah Bicara Kisruh Sepak Bola Indonesia

Beberapa bintang La Masia, bahkan sempat bersinar terlebih dahulu di luar, sebelum kembali ke Barcelona. Sebut saja Gerard Pique yang sempat mentas di Manchester United, atau Cesc Fabregas yang menjulang pertama kali bersama Arsenal.

Sistem pembibitan dan metode latihan di La Masia disebut-sebut salah satu yang terbaik di Eropa, selain Ajax Amsterdam. La Masia juga dilatih oleh pelatih-pelatih hebat yang punya akar kuat dengan Barcelona. Kebanyakan dari mereka memang mantan pemain klub asal Katalunya ini.

Namun, ada juga pemain-pemain muda yang sempat bersinar di La Masia, namun akhirnya tenggelam begitu saja. Sebabnya tentu beragam. Berikut enam bintang La Masia, yang gagal menemukan sinarnya saat masuk ke tim Barcelona senior, alias layu sebelum berkembang, dikutip dari sport.es.


Gai Assulin

Gai Assulin dengan seraga Mancester City. (Skysports)

Gai Assulin
Gai Assulin sempat disebut-sebut sebagai “Lionel Messi” baru di Akademi La Masia. Dia menjadi bintang di La Masia, tidak ubahnya Messi di eranya. Dia juga berhasil menunjukkan kemampuannya bersama Barcelona B.

Maka itu, sang pemain dikabarkan shock berat saat tidak dimasukkan dalam skuat pramusim Barcelona 2008/09. Ketika itu, pelatih Josep Guardiola baru diangkat sebagai pelatih Barcelona senior. Kabarnya, ini terkait dengan tingkat disiplin Assulin yang rendah.

Assullin sering datang terlambat saat berlatih dengan Barcelona B. “Saya tidak tahu masalah Assulin. Padahal, pemain lainnya bisa datang tepat waktu. Mereka memiliki waktu istirahat yang sama,” ujar Luis Enrique, yang ketika itu menjabat sebagai pelatih Barcelona B.

Assulin kemudian sempat mengadu peruntungan ke Inggris dan bergabung dengan Manchester City. Namun, peruntungannya kurang bagus. Dia kembali ke Spanyol dan merumput bersama tim-tim kecil, seperti Racing Santander, Granada, Hercules, dan Real Mallorca. Sejak 2016, dia dikontrak klub Israel, Hapoel Tel Aviv.

Lanjut Baca:

Mario RosasSetelah menjulang dan menarik perhatian di Akademi La Masia, Mario Crosas pun mendapat promosi ke tim utama Barcelona. Debutnya terjadi pada tahun 1998 di ajang La Liga lawan UD Salamanca. Ketika itu, Barcelona sudah memastikan diri jadi juara.Di Barcelona B, Rosas sebenarnya sudah punya nama. Dia seangkatan dengan nama-nama yang kemudian jadi bintang Barcelona, seperti Puyol, Xavi, Jofre, Luis Garcia, Gabri, dan Miguel Angel.Namun, kelemahan Rosas di lapangan ketika itu, kata pelatih Louis Van Gaal adalah saat tidak memegang bola. “Rosas seperti kebingungan saat kehilangan bola,” ujar Van Gaal yang kemudian memutuskan meminjamkan Rosas ke Alaves.Usai dari Alaves, Rosas juga hanya membela klub-klub gurem sekelas Salamanca, Numancia, Cadiz, Girona, Hercules, Castellon, Murcia, Salamanca, Lankaran, dan Huesca yang bermain di level bawah. Hingga akhirnya pada tahun 2012, Rosas dipinang klub papan bawah Eredivisie Belanda, Heracles dan kemudian bergabung dengan Roda JC. Saat ini, Rosas diangkat sebagai pelatih tim muda Roda.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya