TN Baluran Kembang Biakkan Banteng Jawa yang Galak

Sejak 2013 hingga sekarang pengembangbiakan semi alami banteng ini telah melahirkan tiga bayi banteng.

oleh Liputan6 diperbarui 14 Feb 2016, 17:50 WIB
Sejak 2013 hingga sekarang, pengembangbiakan semi alami banteng ini telah melahirkan tiga bayi banteng.

Liputan6.com, Situbondo - Spesies Banteng Jawa (Bos Javanicus) yang sudah makin terancam keberadaanya menjadi salah satu persoalan yang dihadapi oleh Taman Nasional Baluran (TNB), Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.

Karena itu pihak TNB, akan mengembangbiakkan Banteng Jawa secara semi alami sebagai langkah antisipasi mencegah kepunahan satwa tersebut.

"Sejak 2013 hingga sekarang, pengembangbiakan semi alami banteng ini telah melahirkan tiga bayi banteng, yakni dua bayi jantan dan satu bayi betina," kata Kepala Bidang Penyuluhan TNB Siyanto di Situbondo, seperti di lansir Antara, Minggu (16/2/2016).

Namun, pengembangbiakan ini masih menghadapi sejumlah kendala, akibatnya, satu ekor bayi banteng berkelamin jantan mati pada 2014 lalu sewaktu masih umur dua bulan.

"Tiga banteng muda itu merupakan hasil pengembangbiakan satu ekor jantan dan dua betina," ujar Siyanto.

 

Sebelumnya satu banteng jantan dan dua betina itu didatangkan dari Taman Nasional Meru Betiri Jember. Diharapkan program ini menjadi langkah untuk mencegah kepunahan banteng jawa.

Siyanto menjelaskan matinya bayi banteng yang diberi nama Gerhana dalam usia dua bulan itu karena induknya tidak mau menyusui. Saat itu dua induk banteng di penangkaran kerap bertengkar.

Menurut dia, untuk mengantisipasi dua induk banteng dengan nama Tina dan Usi agar tidak bertarung, pihaknya kemudian mengambil langkah dengan membuat pagar pemisah di penangkaran.

"Banteng jantan kami beri nama Tekad, dan dua bayi banteng yang masih hidup sampai sekarang kami beri nama Doni dan Nina. Keduanya merupakan anak dari indukan Nina, sementara Gerhana dari indukan Usi," kata Siyanto.

Perawatan Banteng Jawa yang yang dikenal galak dan suka menyeruduk ini membutuhkan seorang tenaga perawat yang bertugas  merawat dan memberikan makan serta minum di penangkaran.

"Awalnya takut juga, tapi karena sudah terbiasa setiap hari memberikan makan dan minum akhirnya banteng jantan maupun yang betina akrab dengan saya," ujar Wahyudi, seorang perawat banteng di penangkaran.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya