Mengenang Tragedi Munich: Tewasnya 8 Pemain MU

Sekitar 58 tahun lalu, delapan pemain MU anggota skuat legendaris Busby Babes tewas karena tragedi yang disebut The Munich Disaster.

oleh Luthfie FebriantoDiterbitkan 06 Februari 2016, 20:07 WIB
The Munich Clock yang dipasang di salah satu bagian Stadion Old Trafford /flickr

Liputan6.com, Manchester- Jam itu terpasang kokoh di salah satu sudut di tenggara Stadion Old Trafford, markas Manchester United (MU). Selain jam yang terus berdetak, di sana selalu tertulis: 6 Februari 1958, Munich. The Munich Clock, demikian nama jam itu disebut.

Bagi para fan MU, jam itu punya makna khusus. The Munich Clock merupakan salah satu cara  mengingat tragedi yang merenggut nyawa delapan pemain serta tiga staf MU, The Munich Disaster.

Baca Juga

  • Guardiola Bakal Bertemu Mourinho di Derby Manchester?
  • Evan Dimas Pemain Pertama yang Masuk Program Masa Depan La Liga 
  • Daud Yordan Tidak Puas Menang Gara-gara Ditanduk Kato

Saat itu, 6 Februari 1958, skuat MU yang dikenal dengan sebutan Busby Babes, baru saja memastikan diri lolos ke semifinal usai menahan imbang Red Star Belgrade 3-3, sehari sebelumnya. MU yang menang 2-1 di leg pertama, lolos setelah dengan agregat 5-4.

Bagi sepak bola Inggris, keberhasilan MU jadi sejarah. Itu lantaran MU jadi tim pertama Inggris yang main di Liga Champions. Sebelumnya, Federasi Sepak Bola Inggris (FA) selalu melarang tim Inggris ikut serta. 

Tapi skuat MU tidak bisa berleha-leha menikmati keberhasilan itu. Mereka harus kembali ke Manchester untuk melakoni pertandingan di Liga Inggris.

Tidak ingin membuang-buang waktu, pihak klub menyewa pesawat Airspeed Ambassador milik British European Airways untuk kembali ke Manchester. Selain para penggawa MU, sejumlah jurnalis dan suporter juga turut dalam rombongan.

Karena keterbatasan kemampuan terbang, pesawat yang membawa mereka transif di Bandara Munich-Reim, Jerman Barat untuk mengisi bahan bakar.


Awal Tragedi

Sir Bobby Charlton menjadi salah satu anggota Busby Babes yang selamat /manutdtransfernews

Di luar dugaan, transit di Munich jadi awal tragedi. Pesawat Airspeed Ambassador gagal lepas landas. 

Kegagalan pesawat lepas landas karena salju tebal yang berada di landasan. Salju itu menahan pesawat untuk mencapai kecepatan yang dibutuhkan untuk terbang.

Sebetulnya, tanda-tanda pesawat gagal terbang sudah tercium sebelum tragedi itu terjadi. Pesawat mengalami dua kali penundaan lepas landas karena kerusakan mesin. Ketika hendak melakukan percobaan ketiga, hujan salju turun sehingga salju menutupi landasan.

Lanjut Baca:

Menara pengawas pun sudah memperingatkan pesawat agar jangan terbang dan menginap satu malam di Munich. Namun pilot pesawat, kapten James Thain bersikukuh untuk menerbangkan pesawat membawa pemain MU. Dalam investigasi yang digelar setelah tragedi itu, Thain sempat dinyatakan bersalah oleh otoritas penerbangan Jerman. Tapi investigasi lanjutan yang dilakukan pihak Inggris menyatakan Thain bebas dari tuduhan. Menurut pihak Inggris, salju yang mencair di landasan adalah penyebab kecelakaan tersebut. Thain sendiri meninggal pada Agustus 1975 karena penyakit jantung.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya