Liputan6.com, London - Mobil kencang di era modern bukan suatu hal yang mengejutkan. Bahkan, kecepatan sudah lama jadi menjadi sorotan utama.
Mobil-mobil seperti McLaren P1, Ferrari LaFerrari atau Porsche 918 Spyder menyuguhkan respons instan ketika kaki Anda menyentuh pedal gas. Bahkan mobil-mobil dengan kecepatan di atas 300 km/jam itu belum ada apa-apanya jika dibandingkan Bugatti Chiron yang dibangun sebagai mobil tercepat sedunia.
Sebagaimana dilansir Telegraph, Rabu (30/12/2015), sifat manusia yang ingin terus lebih cepat dan lebih baik menjadi hal yang melandasi pabrikan otomotif era modern menciptakan mobil-mobil dengan kecepatan fantastis.
Dengan mobil-mobil super yang di antaranya sudah didukung turbo maka cukup mudah untuk melintasi lalu lintas yang lambat. Sayangnya, kemampuan mobil yang gahar seringkali dimanfaatkan secara ngawur seperti mengintimidasi pengemudi lain yang lebih lambat alih-alih mendahuluinya.
Baca Juga
Advertisement
Meskipun segala godaan ini berasal dari performa mobil, namun orang cenderung lupa karena segala bentuk kesalahan lebih banyak muncul dari manusia. Ini tak ubahnya seperti menyalahkan Apple ketika seseorang matanya selalu tertuju pada layar iPhone.
Mobil melaju kencang sesungguhnya bukan karena itu benar-benar diperlukan tetapi karena keinginan. Oleh karena itu, pengemudi tetap bertanggung jawab memastikan kendaraan dikemudikan secara tepat.
Untuk itu, pihak regulator di negara maju tidak memberi toleransi dalam bentuk apapun segala pelanggaran batas kecepatan. Selain itu, asuransi pengemudi tidak berlaku apabila terjadi insiden karena melebihi batas kecepatan.