Liputan6.com, Sempat bangkit dan kembali bergairah, sepak bola Indonesia kembali terlelap. Belum diketahui kapan sepak bola di negeri ini bangun; mengingat sanksi FIFA berlaku hingga batas waktu yang tidak ditetapkan.
Ya, sepak bola Indonesia benar-benar terpuruk di tahun 2015. Konflik PSSI dan Kementrian Pemuda dan Olahraga membuat kompetisi di Indonesia mati suri. Keributan bermula dari skandal pengaturan skor. Menpora Imam Nahrawi melihat, masalah tersebut telah mendarah daging dalam sepak bola tanah air.
Sebagai jalan keluar, pemerintah membentuk Tim 9 untuk mengkaji masalah sepak bola di Indonesia. Setelah kerja Tim 9 rampung, Kemenpora membentuk Tim Transisi untuk menggantikan peran PSSI. Sejumlah tokoh ditunjuk untuk mengisi tim ini. Namun, tidak sedikit dari tokoh tersebut menolak bergabung di Tim Transisi, salah satunya adalah Walikota Bandung, Ridwan Kamil.
Baca Juga
- Hiddink Sentil Van Gaal soal Performa Depay
- Arsenal Berniat Datangkan Pemain Buangan Van Gaal
- Adu Mentereng Skuat MU dan Chelsea Dalam Rupiah
Advertisement
Manuver Pemerintah tidak berhenti sampai di situ. Menpora melalui Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) akhirnya melarang dua klub ikut serta dalam kompetisi ISL.
Arema Cronus dan Persebaya United dianggap gagal melengkapi adiminstrasi karena dua dualisme kepemilikan. Padahal, BOPI sendiri telah memberi restu pada PSSI tetap menggulirkan ISL namun dengan syarat, tanpa Arema dan Persebaya.
Namun PSSI selaku induk sepak bola di Indonesia tetap jalan terus menggelar kompetisi. Perhelatan ISL yang sempat ditunda beberapa pekan resmi bergulir pada April. Namun, PSSI terpaksa menghentikan seluruh kegiatan sepak bola, termasuk ISL pada Mei lantaran Tim Transisi bentukan pemerintah tidak memberikan rekomendasi kepada kepolisian menggelar pertandingan di seluruh Indonesia.