Menyorot Kampung Terapung di Danau Tempe

Kehidupan di kampung terapung Selo Tengngae di Danau Tempe, Sulsel, tak berbeda dengan di daratan. Nelayan di sana memasok lebih dari 50 persen kebutuhan ikan air tawar di Sulsel.

oleh Liputan6Diterbitkan 19 November 2001, 01:57 WIB
Liputan6.com, Wajo: Selo Tengngae, kampung terapung di atas air menjadi kediaman masyarakat nelayan di Danau Tempe, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, selama bertahun-tahun. Keberadaan dusun itu bermula dari sekelompok pencari ikan yang merasakan kelimpahan hasil tangkapannya. Kemudian mereka memutuskan untuk tinggal dan menetap di tengah danau dengan mendirikan rumah-rumah apung yang terbuat dari kayu. Hingga kini, tercatat 32 rumah telah dibangun.

Tidak berbeda dengan kehidupan di darat, Selo Tengngae memiliki seorang kepala kampung. Perkembangan kehidupan masyarakat di sana mirip dengan cara hidup di daratan. Mereka juga tak segan mengadopsi kehidupan di darat. Beternak hewan bukan hal yang tak mungkin dilakukan.

Dalam keseharian, warga kampung ini mengandalkan hidup dari hasil penjualan ikan yang diperoleh. Para nelayan membuat bungka atau kolam alam yang terbuat dari bilah-bilah bambu. Biasanya setiap bungka dimiliki sepuluh hingga 20 orang. Mereka bersama-sama membuat bungka untuk menghidupi keluarganya masing-masing. Hasil panen satu kolam tak kurang dari Rp 60 juta.

Saat air surut tiba, masyarakat Kampung Selo Tengngae mulai berpanen. Mereka harus menunggu enam bulan sejak bibit-bibit ikan mulai ditanam di bungka. Hasil panen ini menjadi penghasilan utama. Mereka memasok lebih dari 50 persen kebutuhan ikan air tawar di Sulsel. Selang enam bulan kemudian, mereka berharap bisa mendapatkan kelimpahan yang berlebih, untuk tetap bertahan.(COK/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya