Film Komersial Indonesia dan Keterjebakannya dalam Inkonsistensi

Film-film komersial Indonesia kebanyakan belum mempunyai kualitas baik.

oleh Permata Adinda PriyadiDiterbitkan 05 November 2015, 13:50 WIB
Adegan film Comic 8: Casino Kings-Part 1. (dok. Falcon Pictures)

Liputan6.com, Jakarta "Film suatu bangsa mencerminkan mentalitas bangsa itu lebih dari yang tercermin lewat media artistik lainnya."

     --Siegfried Kracauer--

Asrul Sani, sastrawan dan sutradara asal Indonesia, pernah menyatakan bahwa sebagian besar film Indonesia bercerita di negeri antah berantah. Ungkapannya tentang film Indonesia ini didasari oleh kecenderungan untuk bertolak belakangnya latar belakang Indonesia yang diceritakan dalam film dengan kenyataan pada lapangan.

Salim Said pun menyatakan dalam bukunya, Pantulan Layar Putih, bahwa film di Indonesia cenderung berusaha untuk menembak selera penonton, bukan mempersoalkan diri sendiri.

Diputar di bioskop-bopskop megah di hampir seluruh wilayah di Indonesia, film komersial umumnya lebih mudah diakses publik, dan mempunyai jumlah penonton yang lebih banyak dibandingkan dengan film-film non-komersial. Namun kenyataannya, film-film Indonesia yang lebih mudah dan lebih banyak dinikmati oleh masyarakat ini belum tentu mempunyai kualitas yang lebih baik daripada film-film non-komersial.

Film-film non-komersial Indonesia nyatanya banyak yang jujur dan konsisten dalam membahas dan melatarbelakangi filmnya dengan realita-realita yang ada di Indonesia. Sebut saja sutradara Lucky Kuswandi yang sejak film pertamanya, Still (2005) hingga film terbarunya, The Fox Exploits The Tiger’s Might (2015), selalu membahas mengenai kaum minoritas, terutama berkenaan dengan LGBT dan masyarakat Tionghoa di Indonesia.

Baca Juga

  • REVIEW The Wedding and Bebek Betutu
  • REVIEW Comic 8: Casino Kings-Part 1
  • ESAI Film Surga yang Tak Dirindukan

 

Begitu pula dengan film terbaru Eddie Cahyono, Siti (2014), yang secara konteks sosial membahas mengenai beban yang dipikul dan batasan-batasan yang dihadapi oleh kaum perempuan.

Lanjut Baca:

Sementara itu, film-film komersial Indonesia seringkali seperti tak punya kapasitas untuk membahas realita dengan lebih mendalam. Ditelusuri ke setahun belakang, film The Right One (2014) karya Stephen Odang yang berlatar tempat di Bali berusaha menopang pariwisata lokal lewat konsepnya. Hanya saja, dengan kedua karakter utamanya yang merupakan warga lokal setempat, film ini menjadi tidak wajar karena menilik Bali lewat kacamata turis yang berjarak: saling berbicara dalam bahasa Inggris, karakternya menggunakan nama-nama orang Barat, dan bertingkah selayaknya turis dengan memegang brosur panduan ketika menonton tari kecak. Film-film komersial Indonesia senang menggunakan prinsip audience approach dengan memasukkan unsur-unsur back to basic seperti drama, komedi, horor dan seks memang seringkali membahas persoalan diri sendiri sebatas kulitnya saja atau bahkan bertolak belakang dengan keadaan Indonesia sendiri. Namun, apakah usaha untuk melulu menebak selera penonton dan berakhir dengan menelantarkan budaya sendiri ini adalah hal yang salah? Charlie Chaplin adalah salah satu sutradara yang berusaha membuat film sesuai dengan selera penontonnya. Ia berusaha mengamati tingkah laku dan sifat manusia. Pengamatannya berbuah pada elemen kejutan yang tertuang pada opening scene film The Immigrant (1917), yaitu ketika Chaplin mengeluarkan setengah badannya keluar kapal yang ia naiki, seakan-akan ingin bunuh diri, padahal setelah itu diperlihatkan bahwa ia sedang memancing ikan. Lalu, apakah prinsip audience approach yang dianut oleh film-film komersial Indonesia juga didasari pengamatan secara saksama terhadap tingkah laku manusia?

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya