Liputan6.com, Denpasar: Sampah atau limbah tidak selamanya tak berguna. Di tangan Yuyun Ismawati, seorang aktivis lingkungan di Bali, sampah dan limbah justru diolah menjadi sesuatu yang multifungsi. Bahkan karya Yuyun dalam mengelola sampah dan limbah tidak hanya diterapkan di Tanah Air melainkan di sejumlah negara di benua Asia dan Afrika.
Lingkungan Segina Asri di Banjar Pekandelan, Denpasar, merupakan salah satu proyek pengelolaan limbah keluarga yang dikerjakan Yuyun. Dalam proyek sanitasi masyarakat berdana Rp 300 juta ini, 190 kepala keluarga di desa tersebut dilibatkan untuk mengolah limbah rumah tangga secara terpadu selama satu tahun.
Dengan sistem ini seluruh limbah keluarga disalurkan pada satu saluran terpadu menuju instalasi pengolahan air limbah di pintu masuk desa. Kampung yang semula kumuh dan kotor pun kini menjadi bersih dan sehat setelah diterapkannya sistem pengolahan ini.
Di desa tersebut, sarjana teknik lingkungan lulusan Institut Teknologi Bandung ini memperkenalkan alat pengolahan air rumah tangga yang disebut bio sand filter. Dengan alat sederhana ini, kualitas air yang digunakan warga bisa menjadi lebih baik dan bisa mengurangi ketergantungan terhadap air minum kemasan.
Tidak hanya berkutat pada pengelolaan limbah dan penyediaan air bersih di lingkungan kumuh, ibu dua putri ini juga aktif dalam pengelolaan sampah. Bekerja sama dengan para pebisnis hotel di Bali dan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hotel, Yuyun mengelola sampah-sampah hotel untuk didaur ulang menjadi pupuk kompos hingga aneka barang kerajinan.
Perempuan berusia 44 tahun ini memulai karier sebagai konsultan pemerintah untuk merancang penyediaan air wilayah desa dan kota. Pada 1996 ia mulai membantu warga miskin dalam merancang fasilitas pengelolaan sampah yang terkoordinasi dan memberi manfaat ekonomi bagi warga.
Yuyun mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat Bali Fokus pada Juni 2000. Lewat LSM ini ia menyebarluaskan program pengelolaan lingkungan perkotaan berbasis masyarakat. Sistem pengelolaan sampah dan sanitasi yang dikembangkan Yuyun kini sudah diterapkan di 300 kota kabupaten di Indonesia. Sistem pengelolaan ini juga sudah diterapkan di Zambia, Afrika Selatan, dan Filipina.
Atas dedikasinya terhadap lingkungan, Yuyun menerima penghargaan lingkungan Goldman 2009 di San Fransisco, Amerika Serikat, pada 20 April silam. Penghargaan ini diberikan kepada individu yang berani menghadapi kepentingan pemerintah maupun pengusaha dan berkarya untuk memajukan lingkungan bagi anggota masyarakat.(YNI/AND)
Lingkungan Segina Asri di Banjar Pekandelan, Denpasar, merupakan salah satu proyek pengelolaan limbah keluarga yang dikerjakan Yuyun. Dalam proyek sanitasi masyarakat berdana Rp 300 juta ini, 190 kepala keluarga di desa tersebut dilibatkan untuk mengolah limbah rumah tangga secara terpadu selama satu tahun.
Dengan sistem ini seluruh limbah keluarga disalurkan pada satu saluran terpadu menuju instalasi pengolahan air limbah di pintu masuk desa. Kampung yang semula kumuh dan kotor pun kini menjadi bersih dan sehat setelah diterapkannya sistem pengolahan ini.
Di desa tersebut, sarjana teknik lingkungan lulusan Institut Teknologi Bandung ini memperkenalkan alat pengolahan air rumah tangga yang disebut bio sand filter. Dengan alat sederhana ini, kualitas air yang digunakan warga bisa menjadi lebih baik dan bisa mengurangi ketergantungan terhadap air minum kemasan.
Tidak hanya berkutat pada pengelolaan limbah dan penyediaan air bersih di lingkungan kumuh, ibu dua putri ini juga aktif dalam pengelolaan sampah. Bekerja sama dengan para pebisnis hotel di Bali dan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hotel, Yuyun mengelola sampah-sampah hotel untuk didaur ulang menjadi pupuk kompos hingga aneka barang kerajinan.
Perempuan berusia 44 tahun ini memulai karier sebagai konsultan pemerintah untuk merancang penyediaan air wilayah desa dan kota. Pada 1996 ia mulai membantu warga miskin dalam merancang fasilitas pengelolaan sampah yang terkoordinasi dan memberi manfaat ekonomi bagi warga.
Yuyun mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat Bali Fokus pada Juni 2000. Lewat LSM ini ia menyebarluaskan program pengelolaan lingkungan perkotaan berbasis masyarakat. Sistem pengelolaan sampah dan sanitasi yang dikembangkan Yuyun kini sudah diterapkan di 300 kota kabupaten di Indonesia. Sistem pengelolaan ini juga sudah diterapkan di Zambia, Afrika Selatan, dan Filipina.
Atas dedikasinya terhadap lingkungan, Yuyun menerima penghargaan lingkungan Goldman 2009 di San Fransisco, Amerika Serikat, pada 20 April silam. Penghargaan ini diberikan kepada individu yang berani menghadapi kepentingan pemerintah maupun pengusaha dan berkarya untuk memajukan lingkungan bagi anggota masyarakat.(YNI/AND)