Liputan6.com, Jakarta - Setelah enam bulan mati suri, gempita sepak bola nasional bergeliat. Beberapa stadion megah di tanah air, kembali diramaikan dengan gemuruh sorak sorai penonton. Ribuan pebola pun bungah bukan kepalang. Aktivitas rutin yang biasa mereka lakoni selama ini, bisa dirasakan kembali.
Tim-tim Divisi Utama bisa unjuk gigi di turnamen Piala Kemerdekaan, September lalu. Sekali pun masih banyak kekurangan di penyelenggaraannya, hajatan itu sanggup melejitkan klub-klub yang selama ini tak pernah bisa bersaing di level nasional. Contohnya, finalis Persenga Ngawi.
Sementara, klub-klub Indonesian Super League (ISL) lebih beruntung. Mereka bisa berlaga di sebuah turnamen besar yang bertajuk Piala Presiden. Sampai dengan babak semifinal, hajatan yang digulirkan September-Oktober itu mendapatkan animo yang luar biasa. Selain pertandingan kerap disesaki penonton, rating share televisi pun tinggi. Konon, angkanya jauh di atas rating sinetron yang kerap menjadi jualan utama industri televisi.
Pelaku di second line juga merasakan keuntungan serupa. Para pedagang kecil di sekeliling stadion bungah karena bisa menyambung hidup. Dalam skala yang lebih besar, hotel, biro perjalanan, atau bisnis lain di kota penyelenggara pertandingan, ikut merasakan keuntungan yang sama.
Hanya saja, fenomena itu sepertinya tak akan berlangsung lama. Semuanya masih abu-abu. Hal tersebut disebabkan belum adanya kepastian bahwa kompetisi resmi akan segera digulirkan. Semuanya tergantung kebijakan pemerintah.
Sebagai regulator kompetisi, PT Liga Indonesia sejatinya sudah merancang kompetisi lanjutan. Baik itu di level kontestan ISL atau Divisi Utama. Bahkan, level amatir pun, sudah dipikirkan.
Namun semuanya bertepuk sebelah tangan. Pemerintah, dalam hal ini Kemenpora, belum juga melunak. Selama masih ada pembekuan PSSI, selama itu pula sepak bola di bawah PSSI tak diizinkan bernapas. Itu artinya semua aktivitas yang berbau PSSI, haram untuk diadakan.
Apesnya lagi, koar-koar Menpora yang mengklaim akan menunjukkan tata kelola sepak bola yang benar, ternyata masih sebatas bualan belaka. Sejak April 2015, tidak ada gebrakan Menpora dengan Tim Transisi-nya yang bisa membuat situasi sepak bola Indonesia ke arah yang lebih baik. Di sisi lain, publik pun mulai jengah. Kinerja tim transisi dinilai minor.
Jika sudah begini, usai Piala Kemerdekaan dan Piala Presiden, akan dibawa kemana sepak bola negeri ini? Akankah masyarakat akan tetap disuguhi dengan ‘panggung drama’ orang-orang yang sejatinya tak pernah paham dengan tata kelola sepak bola?
Advertisement