Tiga Drama Transfer Terunik di Liga Indonesia

Di Indonesia cerita transfer menggelikan hingga berbau penipuan pernah terjadi.

oleh Rejdo PrahanandaDiterbitkan 02 September 2015, 15:45 WIB
Indrianto Nugroho

Liputan6.com, Bursa transfer di Eropa ditutup dengan drama kegagalan transfer kiper David De Gea ke Real Madrid dan Manchester United (MU). Keterlambatan memasukkan dokumen membuat Madrid urung mendatangkan pemain asal Spanyol tersebut. Kesalahan sepele ini membuat rencana transfer Real Madrid berantakan.

Kisah transfer ternyata bukan hanya terjadi di Eropa, di Indonesia cerita transfer menggelikan hingga berbau penipuan pernah terjadi. Berikut cerita tersebut dikumpulkan Liputan6.com dari berbagai sumber:


1

1. Mister 'Cepek' Indrianto Nugroho

Cerita transfer ini terjadi 19 tahun lalu, atau tepatnya Maret 1996. Ketika itu, Indrianto Nugroho pulang dari Italia setelah mengikuti program PSSI Primavera. Sebelum berangkat ke Italia, Indrianto merupakan pemain binaan Arseto Solo. Namun, PSSI sebagai induk organisasi tiba-tiba mengeluarkan keputusan, kalau semua pemain eks-Primavera bakal dilepas ke klub yang berani mengajukan tawaran tertinggi.

Indrianto pun ikut berkomentar di sebuah media, kalau dia merasa tidak dibesarkan Arseto. Kemudian, pemain yang sempat memperkuat Persepam Madura United itu berlatih bersama Pelita Jaya.

Nirwan Bakrie yang menjabat sebagai Direktur Komite Tim Nasional PSSI sekaligus penyandang proyek Primavera serta merangkap pemilik Pelita Jaya, menyatakan kalau Indrianto tidak terikat kontrak dengan Arseto, meskipun sang pemain tercatat sebagai pemain untuk tim yang berbasis di Solo ini.

Arseto; yang notebene dimiliki Keluarga Cendana ini tidak terima. PSSI akhirnya turun tangan meredakan konflik Arseto vs Pelita Jaya gara-gara Indrianto. PSSI mempertemukan kedua klub tersebut pada 29 Maret 1996 di kantor PT Liga. Disepekati, Pelita bersedia membeli Indrianto. Arseto pun geram. Mereka siap menjual Indriato dengan harga Rp 100. Pelita menuruti kemauan Arseto dan membayar transfer Indrianto hari itu juga dengan nominal yang telah diminta.

Mulai saat itu, Indrianto mendapatkan julukan sebagai 'mister Rp 100'. "Saya kira lebih baik bebas transfer daripada dihargai Rp 100," ucap Indrianto.


2

2. Dibayar Pakai Tanah dan Mobil

Pada September 2008, pelatih sekaligus pemain Nasional, Bambang Nurdiansyah sempat menjadi pemberitaan luas. Bukan karena prestasi melatihnya, tetapi karena pembayarannya menggunakan tanah dan mobil. Sedangkan, setiap bulannya, Bambang juga mendapatkan gaji bulanan.

Lanjut Baca:

General Manajer PSIS, Yoyok Sukawi memang sangat berharap, Banur, panggilan Bambang Nurdiansyah, bisa melatih Mahesa Jenar. Bambang sendiri tidak mempersoalkan, gajinya dihargai tanah dan mobil. Gayung bersambut. Banur memberikan lampu hijau bakal melatih PSIS. Bambang pun rela, gaji yang diterima di PSIS lebih kecil dibanding di Arema. Kedekatan dengan Yoyok berada di balik keputusan Bambang berlabuh ke PSIS dari Arema Indonesia. Dia cuma meminta pembayaran yang pantas. "Saya ingin sekali membantu PSIS. Terlebih, hubungan saya dan Yoyok selama ini sangat baik. Karena itu, saya hanya ingin gaji yang wajar dan pantas," ujar Bambang ketika itu.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya