Battle of Surabaya, Antara Kualitas Animasi dan Nasionalisme

Di luar kualitas animasinya, Battle of Surabaya meninggalkan problem tersendiri terkait isi filmnya. Telaah wartawan kami.

oleh Ade IrwansyahDiterbitkan 27 Agustus 2015, 21:15 WIB
Battle of Surabaya, Antara Kualitas Animasi dan Nasionalisme

Liputan6.com, Jakarta SPOILER ALERT: PERINGATAN! Esai film tentang Battle of Surabaya ini membincangkan inti cerita dan momen kunci filmnya. Waspadai bocoran cerita di tulisan ini.

Pada 22 Agustus lalu pengelola akun fanpage Facebook film Battle of Surabaya menuliskan status begini, "Fakta Pertaruhan harga diri bangsa antar negara: INSIDE OUT (Amerika) VS BATTLE OF SURABAYA (Indonesia), hanya bisa dimenangkan kalau penonton Indonesia mendukungnya dengan menonton di bioskop. Menurut kakak....?"

Di bioskop, Battle of Surabaya memang harus berhadap-hadapan dengan film animasi buatan Pixar milik Disney, Inside Out.

Namun, menjadi hal yang menarik untuk kita diskusikan bersama bahwa yang dipertaruhkan di bioskop saat ini adalah “harga diri bangsa” dan dengan demikian, bila memilih menonton Inside Out kemudian dicap tak nasionalis.

Baca juga: REVIEW Inside Out, Dunia di Kepala Bocah 11 Tahun

Menyebut harga diri bangsa dipertaruhkan oleh pertarungan Battle of Surabaya versus Inside Out tentu saja berlebihan. “Lebay”, jika menggunakan istilah masa kini.

Tapi, sejak dulu nasionalisme memang selalu jadi bahan jualan yang jitu. Hal ini tampaknya yang ingin dikedepankan sang pemilik film Battle of Surabaya. Harapan mereka, jiwa nasionalisme dan patriotisme masyarakat bakal terlecut dan memilih menonton film buatan anak bangsa sendiri ketimbang bikinan Hollywood.

Adegan film Battle of Surabaya. (dok. MSV Pictures)

Lantas, apa jualan nasionalisme ini laku?

Biar angka yang bicara.

Dari data yang dimiliki pengamat perfilman Yan Widjaya, sampai Minggu (23/8/2015) kemarin, Battle of Surabaya (rilis sejak 20 Agustus) baru mengumpulkan 31 ribu penonton. Data laman filmindonesia.or.id per Senin (24/8/2015), naik sedikit jadi 37.393 penonton.

Battle of Surabaya jauh tertinggal oleh Magic Hour (386 ribu penonton) dan, apalagi Surga yang Tak Dirindukan (1,5 juta penonton).

Lanjut Baca:

Sedikit menyinggung film dan nasionalisme, kita memang dengan mudah menyebut apa yang dimaksud film Hollywood, film Bollywood, film Hong Kong atau semacamnya. Namun sejatinya, batas-batas teritorial dari sebuah film tak signifikan betul. Dengan sistem ekonomi terbuka dan kapitalistik yang berlaku di hampir seluruh permukaan bumi saat ini, film bisa melampaui batas-batas teritorialnya. Sebagai komoditas selayaknya barang dan jasa, yang berlaku kemudian pada film adalah hukum ekonomi, yakni hukum supply dan demand. Saat permintaan pada film negara tertentu tinggi, maka produsen akan membanjiri pasar dengan produk film negara tersebut. Dan kerap kali film bikinan Hollywood yang lebih disukai pasar. Dari sini negara yang kebanjiran film Hollywood biasanya melakukan proteksi. Tiongkok membuat aturan membatasi jumlah film Hollywood yang edar. Pemerintah kita tak lakukan itu. Maka, yang satu-satunya bisa dilakukan ya dengan melecut rasa nasionalisme penonton film. Karena sifatnya hanya himbauan, penonton tetap memiliki kemerdekaan atas pilihan tontonannya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya