Mukjizat Tsunami Martinus: Dikenal Dunia Hingga 'Titisan' Ronaldo

Terselip karunia besar dari bencana Maha Dahsyat itu.

oleh Rejdo PrahanandaDiterbitkan 04 Juli 2015, 19:11 WIB
WUJUDKAN MIMPI - Martunis mewujudkan impian terpendamnya dengan menjadi pemain internasional. (Daily Express)

Liputan6.com, Pagi itu, Minggu 24 Desember 2004 menjadi hari yang tidak terlupakan bagi bocah 6 tahun dari Desa Tibang, Kecamtan Syiah Kuala, Banda Aceh. Siapa sangka, di balik bencana Maha Dahsyat itu terselip karunia besar baginya.

Martunis, nama bocah itu seperti biasa mengawali akhir pekan dengan bermain sepakbola. Martunis mengenakan jersey Timnas Portugal bernomor punggung 10, milik Rui Costa.

Martunis


Dia pergi bersama kakak laki-lakinya, Nurul A'la dan adiknya Annisa bersama sang Ibu, Salwa. Sedangkan, sang Ayah bekerja di tambak. Tidak ada yang aneh di hari itu. Namun, tiba-tiba bumi berguncang hebat. Kekuatannya mencapai 9,3 skala ritcher.

Air pasang laut langsung naik ke permukaan pesisir pantai Bumi Serambi Mekah. Seluruh masyarakat lari tunggang langgang menyelamatkan diri; tidak terkecuali Martunis dan keluarga. Mereka naik mobil pick-up menjauh dari kejaran air bah yang menerjang daratan. Sayang, mereka tidak mampu mengelak dari gulungan gelombang air laut. Mobil yang ditumpangi pun tersapu.

Dampak kerusakan Pasca Tsunami Aceh

Martunis sempat meraih tangan sang adik. Apa daya, tangan mungilnya tidak kuat menahan arus sehingga terlepas. Hari itu, menjadi perpisahan Martunis dan seluruh keluarganya.


21 Hari

SELAMAT - Martunis selamat dari bencana Tsunami di Aceh. (ESPN)

Peristiwa itu tidak kurang menelan korban jiwa 500 ribu orang. Dalam sekejap, Aceh berubah menjadi kota mati. Perhatian dunia tertuju ke Indonesia. Mayat-mayat bergelimpangan di tengah jalan. Isak tangis korban yang masih hidup terdengar di setiap posko dan tenda-tenda darurat.

Martunis, yang saat itu belum diketahui nasibnya terombang-ambing di laut lepas. Dia bersandar pada sebuah balok kayu. Martunis yang ketika itu berusia 6 tahun sudah lemas tidak berdaya. 21 hari sudah, Martunis hanyut.

Martunis beberapa pekan setelah bencana Tsunami 2004 | Via: kaskus.co.id


Sampai, harapannya hidup diselamatkan oleh relawan pada 15 Januari 2005. Martunis yang tersangkut di rawa-rawa dekat makam Teuku Syiah Kuala memudahkan relawan mengevakuasinya.

Lanjut Baca:

Dia dibopong ke bibir pantai dalam keadaan memprihatinkan. Karena selama itu, Martunis hanya meminum air laut. Kebetulan, media televisi asing yang meliput peristiwa itu berhasil meliput detik-detik Martunis diselamatkan. Ketika di sorot kamera, Martunis masih mengenakan pakaian pertama kali dia terseret ombak. Kisah memilukannya lainnya, Martunis bahkan tidak mengenali Ayahnya sendiri, Sarbini ketika mendapat perawatan di Rumah Sakit. Menurut tim medis, Martunis kelelahan. Ketika sang ayah memasuki kamar Martunis di rumah sakit, hanya menatap dan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Seorang staf medis mengungkapkan,"Saya berkata kepada Martunis: Apakah kamu kenal dengan dia? Dia Ayahmu." ucap Hatta, petugas medis itu. "Kemudian Ayahnya berjalan dan Martunis mulai menangis." Menurut Hatta, ketika berhasil diselamatkan, [Martunis](2265333 "") sudah kehabisan tenaga. "Bila telat, mungkin dia sudah meninggal."

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya