REVIEW Terminator Genisys, Setia pada Dua Film Pertama

Pilihan sineas Terminator: Genisys untuk bersetia dengan dua film Terminator pertama adalah pilihan jitu.

oleh Ade IrwansyahDiterbitkan 24 Juni 2015, 13:00 WIB
Adegan film Terminator: Genisys. (dok. Paramount)

Liputan6.com, Jakarta Anda mungkin pernah dengar, Terminator berawal dari sebuah mimpi buruk sutradara James Cameron.

Berada di Roma, Italia tahun 1982, Cameron terbaring sakit diserang demam. Hanya beberapa hari lagi filmnya sebagai sutradara debutan, Piranha II: The Spawning dirilis.

Namun, proyek film itu berujung kacau. Produser film tersebut tak ingin lagi Cameron mengerjakan proyek itu. Berada jauh dari kampungnya, tak punya pekerjaan, dan kena demam tinggi, saat itulah ia bermimpi. Sebuah mimpi yang mengubah hidupnya kelak.

Mimpinya, sesosok makhluk besi keluar dari jilatan api, mencengkeram sepasang pisau besar.

Balik ke kampungnya di California, AS, Cameron menulis skenario berdasarkan mimpinya itu. Hasilnya memang tak persis betul dengan mimpinya di Roma. Namun, makhluk besi yang selamat dari jilatan api adalah dasar dari sosok yang kita kenal sebagai Terminator, sang pemusnah yang tak terkalahkan dan tak kunjung binasa.

Adegan film Terminator: Genisys. (dok. Paramount)

Singkat cerita, film Terminator pertama akhirnya rilis tahun 1984 dengan tagline begini di posternya:

"Di tahun penuh kegelapan, 2029, penguasa planet ini merancang rencana pamungkas. Mereka ingin merancang masa depan dengan mengubah masa lalu. Rencana itu memerlukan sesuatu yang tak punya belas kasihan. Tak memiliki rasa sakit. Tak mengenal takut. Sesuatu yang tak bisa dihentikan. Mereka menciptakan 'The Terminator--sang pemusnah.'"

Tagline itu mengungkap dasar dari kisahnya. James Cameron membayangkan, di masa depan manusia berperang melawan mesin. Pihak mesin hampir kalah oleh perjuangan manusia yang dipimpin John Connor.

Mesin lalu melancarkan langkah licik, mengirim robot ke masa lalu dengan misi membunuh ibunda John agar ia tak pernah dilahirkan. Dengan begitu, di masa depan nanti mesin menang perang melawan manusia.

Untuk mencegah hal itu terjadi, John Connor mengirim serdadu bernama Kyle Reese. Kita kemudian tahu, Kyle tak hanya menyelamatkan Sarah Connor, ibunda John. Ia juga menjalin cinta dengan Sarah, dan dari rahim Sarah kelak lahir John. Sayang, Kyle tak menyaksikan putranya tumbuh. Ia keburu tewas oleh Terminator T-800.

Lanjut Baca:

Film kedua, Terminator: Judgement Day rilis 1991 dengan kisah yang berlanjut dari film pertama. Sarah Connor bukan lagi wanita yang butuh perlindungan pria. Ia menjadi wanita perkasa. Sedang John Connor tumbuh jadi remaja berandalan yang punya ibu dengan pengetahuan akan masa depan yang suram: manusia akan berperang melawan mesin di masa depan, dan anaknya harus ia gembleng sebagai calon pemimpin pejuang umat manusia masa depan. Saat itulah, mesin kembali mengirim robot yang lebih canggih (kali ini berbentuk metal cair yang bisa berubah bentuk) untuk membunuh John. Manusia di masa depan mengirim robot Terminator usang untuk melawan robot metal cair itu. Film ketiga, Terminator 3: The Rise of the Machine (2003) bergerak lebih maju lagi saat John Connor sudah beranjak dewasa. Ibundanya telah tiada. Mesin mengirim Terminator wanita yang lebih tangguh demi membunuh Connor dan wanita yang kelak jadi istrinya. Selain menghindari kejaran Terminator, Connor ingin mencegah hari kiamat saat mesin berontak dan membunuh miliaran manusia dengan senjata nuklir. Sayang, hari kiamat tak bisa dicegah. Namun, satu hal yang sudah ditakdirkan terjadi: Connor mengambil alih kendali sebagai pemimpin umat manusia melawan mesin. Film keempat, Terminator Salvation (2009) mengisahkan bagaimana wujud perang antara mesin lawan manusia di masa depan nan suram pasca-bencana nuklir. Kita melihat John Connor memimpin perjuangan gerilya atas nama umat manusia. Sampai di sini kita lantas bertanya, apa lagi yang hendak diceritakan film kelima, Terminator: Genisys?

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya