Liputan6.com, Jakarta: Kalangan pengusaha menilai, asumsi suku bunga Bank Indonesia (SBI) dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2002 masih terlalu tinggi. Dalam APBN 2002 yang disetujui DPR, Rabu kemarin, tingkat SBI masih sekitar 14 persen [baca: RAPBN 2002 Disahkan Hari Ini]. Demikian diungkapkan Chief Executive Officer RPX Harsha E. Joesoef di Jakarta, Rabu (24/10).
Seperti diketahui, Rapat Paripurna DPR telah menyetujui APBN 2002 dengan asumsi-asumsi umum, antara lain pertumbuhan ekonomi sebesar empat persen, inflasi mencapai sembilan persen, dan harga minyak US$ 22 per barel serta SBI dipatok 14 persen. Menurut Harsha, tingkat SBI itu lebih tinggi ketimbang negara lain. Karena itu, pengusaha nasional akan sulit berkompetisi dengan pesaingnya di luar negeri. "Idealnya, SBI di bawah 10 persen," ujar Harsha.
Mengenai kurs dolar Amerika Serikat, Harsha mengatakan, yang lebih penting adalah kestabilannya. Harsha menambahkan, selama kurs dolar AS tak terlalu fluktuatif, para pengusaha dapat melakukan perhitungan usaha lebih baik.(ANS/Miko Toro dan Sujatmoko)
Seperti diketahui, Rapat Paripurna DPR telah menyetujui APBN 2002 dengan asumsi-asumsi umum, antara lain pertumbuhan ekonomi sebesar empat persen, inflasi mencapai sembilan persen, dan harga minyak US$ 22 per barel serta SBI dipatok 14 persen. Menurut Harsha, tingkat SBI itu lebih tinggi ketimbang negara lain. Karena itu, pengusaha nasional akan sulit berkompetisi dengan pesaingnya di luar negeri. "Idealnya, SBI di bawah 10 persen," ujar Harsha.
Mengenai kurs dolar Amerika Serikat, Harsha mengatakan, yang lebih penting adalah kestabilannya. Harsha menambahkan, selama kurs dolar AS tak terlalu fluktuatif, para pengusaha dapat melakukan perhitungan usaha lebih baik.(ANS/Miko Toro dan Sujatmoko)