Mad Max: Fury Road, Film `Summer` Paling Asyik Tahun Ini

Ungkapan yang tepat bagi Mad Max: Fury Road adalah, "Ini film musim panas paling asyik tahun 2015. Titik."

oleh Ade IrwansyahDiterbitkan 18 Mei 2015, 12:20 WIB
Adegan film Mad Max: Fury Road. (dok. Warner Bros.)

Liputan6.com, Jakarta Serbuan film-film summer alias musim panas dari Hollywood baru saja dimulai. Namun, tampaknya pertarungan summer blockbuster tahun ini sudah kelihatan pemenangnya—setidaknya bagi saya. Mad Max: Fury Road layak jadi pemenang film summer tahun ini!

Saat hendak nonton film ini, awalnya saya tak terlalu antusias. Film Mad Max lagi? Dengan bintang baru dan cerita baru? Ah, ini pasti cara Hollywood ingin cari untung dengan mengajak penonton lama bernostalgia dengan kisah yang dianggap sebagai cult classic, seperti yang sudah-sudah.

Saya salah. Sangat salah.

Franchise Mad Max, Anda mungkin sudah tahu, aslinya berasal dari Australia. Film pertama lahir 1979, sebagai bagian dari apa yang kemudian disebut “ozploitation”, sub- genre bagi film-film dari Australia yang mengeksploitasi kekerasan.

Bagi Hollywood kisah pos-apokaliptik ini begitu nyentrik. Mad Max kemudian dibuat dua jilid lagi dan menjadi tiket bagi Mel Gibson ke Hollywood. Kita kemudian menganggap Max Rockatansky bagi Gibson seperti Indiana Jones bagi Harrison Ford.

Di tengah demam Hollywood yang membangkitkan lagi cerita-cerita lama mereka dengan sekuel, prekuel, remake, ataupun reboot, niatan sutradara film-film Mad Max, George Miller membuat film ke-4 sudah berlangsung selama bertahun-tahun.

Mel Gibson menolak bergabung. Hal yang patut disyukuri karena yang kita kemudian saksikan di layar, filmnya tak terbebani oleh bintang utama yang ingin tampak menonjol.

Mad Max: Fury Road adalah film ke-4 setelah Mad Max (1979), Mad Max 2 (1981), dan Mad Max: Beyond Thunderdome (1985). Kisah film keempat bukan prekuel ataupun remake maupun reboot film terdahulu. Ini sebuah sekuel yang melanjutkan petualangan Max (kali ini diperankan Tom Hardy) di dunia pos-apokaliptik, pasca bencana nuklir yang menyisakan lahan tandus, gersang serta padang pasir di seantero Bumi.

Penonton dianggap Miller sudah tahu tiga cerita sebelumnya. Ia tak perlu menceritakan bagaimana Max dihantui masa lalunya dengan kelebatan bayangan-bayangan. "Tonton film sebelumnya, bodoh! Saya tak punya waktu menceritakan lagi dari awal" Begitu mungkin pikirnya.

Lanjut Baca:

Dan ya, ia memang tak punya waktu untuk itu. Sebab hal itu tak cukup relevan dengan petualangan yang dilakoni Max kali ini. Cerita diawali ketika Max diculik kelompok War Boys yang anggotanya berkepala plontos dan berkulit putih pucat. Darahnya hendak diambil. Ia tak lagi dianggap manusia, melainkan cuma sekantung darah. War Boys adalah pasukan dari seorang war lord, panglima perang bernama Immortan Joe (Hugh Keays-Byrne, aktor watak legendaris Australia) yang berambut putih dengan mulut ditutup topeng seram sekaligus alat bantunya bernafas. Di dunia pasca-bencana nuklir, Immortan Joe dianggap Tuhan oleh pengikutnya. Ia menguasai air yang ia bisa bagikan sedikit-sedikit agar manusia yang tinggal di bawah tebing curam menghamba padanya. Pun bagi pasukannya, War Boys, Joe adalah panutan. Mereka rela mati untuknya. Syahdan, ada seorang prajurit perempuan Joe yang membangkang. Furiosa (Charlize Theron) membawa kabur wanita-wanita yang ditawan sebagai istri Joe. Maka, Joe dan pasukannya mengejar Furiosa hingga ke ujung langit. Max terjebak dalam aksi kejar-mengejar ini. Max lantas bergabung dengan Furiosa dan para istri, dibantu seorang War Boys, Nux (Nicholas Hoult) yang sadar akan kekeliruannya, menghadapi Joe dan pasukannya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya