Polusi Udara di Jakarta Semakin Mengkhawatirkan

Kendati telah memberlakukan program bensin tanpa timbal, polusi udara di Jakarta masih mengkhawatirkan. ADB menyumbang US$ 900 ribu untuk memulihkan kualitas udara di Indonesia.

oleh Liputan6Diterbitkan 17 Oktober 2001, 10:08 WIB
Liputan6.com, Aceh: Direktur Jenderal Perhubungan Darat Iskandar Abubakar baru-baru ini mengatakan, lembaganya masih terus melakukan pengujian terhadap emisi gas buang angkutan umum di Jakarta. Pasalnya, tingkat polusi udara di Jakarta telah mencapai tingkat mengkhawatirkan.

Program bensin tanpa timbal yang diberlakukan pemerintah sejak Juli 2001, rupanya belum membuahkan hasil yang berarti. Selain karena emisi gas buang kendaraan bermotor yang masih besar, juga disebabkan jumlah kendaraan tua yang masih banyak beroperasi. Untuk itu, Asian Development Bank telah menganggarkan dana sebesar US$ 900 ribu untuk memulihkan kualitas udara di Indonesia yang telah tercemar polusi.

Menurut Iskandar, saat ini penyumbang terbesar polusi udara adalah gas buang kendaraan bermotor yang mencapai hampir 70 persen dari total polusi di Kota Jakarta. Sedangkan, sumber polusi udara lainnya adalah gas industri dan gas buang rumah tangga. Akibatnya, hal itu akan mengganggu kesehatan masyarakat Jakarta. Selain itu, dapat meningkatkan korosi (perusakan disebabkan reaksi kimia) pada gedung-gedung tinggi di Jakarta.

Sementara itu, praktisi Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Yanuardi Rasuddin mengusulkan pemerintah menerapkan bahan bakar alternatif, diluar bahan bakar minyak. Gas, listrik, tenaga air, misalnya. Menurut Yanuardi, pemerintah juga perlu mengelola manajemen transportasi yang ramah lingkungan. Selain itu, perlu dilakukan pemeriksaan emisi kendaraan bermotor dan kualitas udara secara berkala. Upaya itu untuk mengurangi dampak polusi udara.(DEN/Indy Rahmawati dan Gatot Setiawan)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya