Perayaan Tahun Baru dalam Duka

SUASANA berkabung nasional terasa kental dalam perayaan Tahun Baru 2005. Gempa bumi disertai badai Tsunami yang melanda sebagian wilayah Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatra Utara, membuat acara pergantian tahun menjadi minimalis. Tak ada pesta kembang api yang biasanya menghias angkasa Jakarta. Menurut Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, dana kembang api dialihkan untuk korban. "Lima ratus juta [rupiah] yang harusnya untuk kembang api, kita sumbangkan ke Aceh," kata Sutiyoso usai perayaan ...

oleh Liputan6Diterbitkan 03 Januari 2005, 14:36 WIB
SUASANA berkabung nasional terasa kental dalam perayaan Tahun Baru 2005. Gempa bumi disertai badai Tsunami yang melanda sebagian wilayah Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatra Utara, membuat acara pergantian tahun menjadi minimalis. Tak ada pesta kembang api yang biasanya menghias angkasa Jakarta. Menurut Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, dana kembang api dialihkan untuk korban. "Lima ratus juta [rupiah] yang harusnya untuk kembang api, kita sumbangkan ke Aceh," kata Sutiyoso usai perayaan Tahun Baru di Pantai Karnaval Ancol, Sabtu (1/1). Sumbangan juga datang dari kalangan artis pengisi acara yang menyumbang sebesar Rp 10 juta. Selain itu, simpati juga datang dari Teuku Rafli Pasya. Suami dari Tamara Blezynski itu tampak terharu dengan sikap masyarakat yang antusias meringankan penderitaan para korban. "Insya Allah, ini adalah suatu bukti bahwa masih adanya suatu kesatuan," kata pria kelahiran Aceh ini. Selain dana, bantuan yang diberikan para artis juga berbentuk doa yang diprakarsai insan seni yang tergabung dalam Kelompok Pengajian Arafah. Penderitaan yang dialami warga Aceh memang berat. Menurut artis Nurul Arifin, bencana ini adalah teguran dari Yang Maha Kuasa, agar tak ada lagi pembunuhan antara pihak TNI dengan anggota Gerakan Aceh Merdeka. "Jangan saling bunuh-membunuh antara umat muslim," kata Nurul yang baru tiba di Jakarta dari Aceh. Nurul memang berada di Aceh sejak Jumat silam. Menurut artis film yang belakangan sibuk sebagai politisi ini, Aceh telah kehilangan satu generasi. Selain itu, suasana di sana masih lumpuh dan sering terjadi gempa susulan. "Kalau malem, kaya kota hantu," kata istri dari Mayong Suryoleksono ini.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya