Kenaikan Harga Beras Karena Distribusi Tak Beres

Harga gabah di kalangan petani hanya naik sekitar dua sampi tiga persen.

oleh Fajar Abrori diperbarui 25 Feb 2015, 13:19 WIB
Buruh petik merontokkan padi, Kab. Magetan, Jatim, Sabtu (19/2). Mereka mendapatkan upah 1 kg untuk setiap 8 kg gabah (perbandingan 8:1), harga gabah di Magetan saat ini Rp 1.700/kg. (Antara).

Liputan6.com, Surakarta - Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyebut kenaikan harga beras yang terjadi beberapa minggu belakangan ini lebih disebabkan faktor distribusi yang tidak beres. Kesimpulan tersebut diungkapkan setelah dirinya melakukan pengecekan langsung harga gabah di petani.

"Sebenarnya soal kenaikan harga beras ini hal yang sederhana. Untuk mengeceknya cukup bertanya ke petani tentang harga gabah, " kata Amran Sulaiman usai membuka Apel Siaga Penyuluh di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Solo, Rabu (25/2/2015).

Dijelaskan Amran, beberapa hari ini dia telah mengecek harga gabah kepada petani. Berdasarkan pengecekan itu, ia menyimpulkan bahwa harga gabah di kalangan petani hanya naik sekitar dua sampi tiga persen. menurutnya, kenaikan tersebut masih cukup wajar.

"Kemarin saya cek harga gabah ke petani. Ternyata harganya sekitar Rp 4.700. Harga itu naik sekitar dua sampai tiga persen. Karena harga sebelumnya adalah Rp 4.500, " ungkap Amran.

Kenaikan harga gabah yang cuma dua sampai tiga persen itu, berbeda jauh dengan harga beras. Harga beras naik hingga sekitar 30 persen.  "Ini ada pengaku kalau di Jakarta beras naiknya sekitar 30 persen. Padahal harga gabah itu cuma naik tiga persen. Jadi ada disparitas harga yang tinggi kan. Semestinya selisih harga gabah dan beras itu 30 persen. Karena kalau gabah digiling itu jadi beras 70 persen, " jelasnya.

Dengan adanya kondisi perbedaan harga yang tinggi antara gabah dan beras, ia menyebut jika permasalahannya adalah adanya distribusi yang tidak benar. "Kami sudah telepon ke Menteri Perdagangan dan kami bisa pastikan ada distribusi yang tidak beres dalam kenaikan harga beras ini, " tegasnya.

Menteri Perdagangan Rachmat Gobel pun mengaku siap melakukan segala hal demi menurunkan harga beras yang saat ini di atas Rp 10 ribu per kg. Salah satunya dengan melakukan operasi pasar melalui Perum Bulog yang diharapkan harga beras segera turun. Tidak hanya melakukan operasi pasar, Mendag mengaku juga meminta Perum Bulog untuk mengaudit pola distribusi beras yang selama ini dilakukannya.

"Yang jelas lakukan saya sudah minta kepada Kepala Bulog untuk lakukan audit secara keseluruhan," kata Gobel di Gudang Bulog, Jakarta, Rabu (25/2/2015).

Audit yang diperintahkan tersebut mulai dari cara pengambilan keputusan hingga ke daerah operasi.‎ Untuk menciptakan transparansi, Mendag juga meminta Bulog kembali mengkaji ulang penunjukkan pedagang sehingga dapat diketahui ke mana beras disalurkan.

Tidak hanya itu, untuk menjaga hal-hal kecurangan yang mengakibatkan kenaikan harga beras, Mendag juga telah bekerja sama dengan Polri untuk menindak tegas para tengkulak. (Reza Kuncoro/Gdn)

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya