Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) melemah di awal pekan ini seiring indeks saham acuan Dow Jones dan S&P 500 merosot tajam dalam satu hari seiring kekhawatiran ekonomi global berdampak terhadap AS.
Pada penutupan perdagangan saham, Senin (Selasa pagi WIB), indeks saham Dow Jones turun 325,27 poin (1,82 persen) ke level 17.507,72. Indeks saham S&P 500 merosot 37,18 poin atau 1,81 persen menjadi 2.021,02. Hal ini diikuti penurunan indeks saham Nasdaq sebesar 74,24 poin (1,57 persen) menjadi 4.652,57.
Advertisement
Penurunan indeks saham ini juga didorong dari 10 sektor saham S&P 500 tertekan termasuk sektor saham energi paling melemah. Sektor saham energi turun 4 persen seiring harga minyak melemah 5,5 persen.
Harga minyak semakin tertekan dengan harga minyak acuan AS turun di bawah US$ 50 per barel sedangkan harga minyak Brent jatuh di bawah level US$ 53 setelah hasil produksi minyak Rusia tinggi, dan ekspor minyak Irak tertinggi selama 35 tahun.
Sementara itu, euro jatuh ke level terendah terhadap dolar AS dalam sembilan tahun terakhir ke level US$ 1.8605. Hal itu terjadi karena ketidakpastian di Yunani, kekhawatiran Yunani keluar dari zona Euro.
Chief Investment Officer Wedbush Equity Management LLC, Stephen Massocca menuturkan, investor fokus terhadap ekonomi global, terutama di Eropa. "Ada beberapa isu yang jadi fokus pasar mulai dari pertumbuhan ekonomi global, dan apa yang terjadi dengan sektor energi," ujar Stephen, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (6/1/2015).
Penguatan dolar telah menekan harga komoditas. Dolar menguat terhadap mata uang utama tertinggi sejak Desember 2005. "Pendapatan perusahaan akan turun jika mereka tidak melakukan hedging," kata Rick Meckler, Presiden LibertyView Capital Management.
Adapun saham-saham yang melemah antara lain saham United Rental turun 10,7 persen, diikuti saham Noble Energy merosot 9,9 persen. Sedangkan saham yang menguat yaitu saham Gilead Sciences Inc naik 2,6 persen. (Ahm/)