Liputan6.com, Semarang- PSIS Semarang sudah dikenai sanksi diskualifikasi. Pemain, pelatih, dan manajemen juga telah dihukum akibat kasus sepak bola gajah. Namun, CEO PT Mahesa Jenar yang mengelola PSIS, AS Sukawijaya, merasa heran karena sebelum komdis menjatuhkan sanksi ia tak diperiksa.
"Saya siap bertanggungjawab. Hujatlah saja, bunuhlah saya, tetapi jangan bunuh PSIS," kata pria yang akrab disapa Yoyok Sukawi itu.
Yoyok yang memang gemar sepak bola sejak kecil itu menyebut bahwa tahun ini merupakan masa terburuk PSIS sejak dibentuk.
"Sebelum saya ambil alih, PSIS sudah mati suri. Tak ada satupun yang sanggup mengelola karena memang butuh biaya besar. Pemerintah juga tak mau memfasilitasi agar PSIS bisa survive. Karena kecintaan saya pada sepakbola dan PSIS, maka saya ikhlas keluar banyak duit untuk membiayai," kata Yoyok di sekretariat PSIS, Senin (24/11/2014).
Perjuangan seluruh pemain dan manajemen agar survive kandas karena tiga gol bunuh diri saat melawan PSS Sleman di Lapangan AAU Yogyakarta, Minggu 26 Oktober lalu.
”Saya ingin bertemu Ketua Komdis PSSI Hinca Panjaitan, karena saya yang paling bertanggung jawab. Kasihan pemain, pelatih. Larangan beraktivitas sepak bola seumur hidup sangat berat. Ini namanya tidak melakukan pembinaan melainkan pembinasaan bagi karier para pemain,” katanya.
Yoyok berkali-kali menyampaikan permintaannya agar Komdis PSSI memanggil dan memeriksanya. Yoyok merasa paling bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Namun demikian, Komdis PSSI bersikukuh tidak memanggil dirinya, dan justru menumpahkan kesalahan kepada pemain.
Sebelum Komdis menjatuhkan sanksi, PSIS juga telah memberikan sanksi internal kepada pelaku-pelaku pada kejadian tersebut. Seperti Manajer Tim Wahyu Liluk Winarto, Catur Adi Nugroho, Fadli Manna, Komaedi dan pelatih Eko Riyadi. Sanksi internal tersebut menjadi sia-sia karena niat baik PSIS sebagai klub tidak dipedulikan Hinca.