Angkot Mogok, Siswa Tasikmalaya Diantar Mobil Dinas Kepolisian

Sebagai aksi mogok, para awak angkutan umum turunkan paksa penumpang yang kedapatan angkot beroperasi.

oleh Liputan6 diperbarui 19 Nov 2014, 13:56 WIB
Sejumlah angkutan umum menunggu penumpang di Terminal Kampung Melayu, Jakarta, Selasa (18/11/2014). (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Solo - Pascakenaikan harga BBM, berbagai persoalan di tengah masyarakat muncul, seperti yang terjadi pada para siswa yang akan menuju ke sekolah. Hal ini dikarenakan angkutan umum sebagian berhenti beroperasi.

Seperti ditayangkan Liputan 6 Siang SCTV, Rabu (19/11/2014), meski waktu sudah menunjukkan pukul 07.30 WIB, Unsa dan Bagas masih berdiri di pinggir Jalan Slamet Riyadi, Solo, Jawa Tengah. Kedua pelajar SMK 7 ini gelisah menanti kedatangan bus kota yang biasa mereka tumpangi tak kunjung datang.

Keduanya sempat mendengar rencana aksi mogok angkutan umum, baik bus maupun angkutan umum sebagai protes atas kebijakan kenaikan harga BBM. Namun mereka tak menduga rencana itu dilansungkan juga hari ini.

Bila tidak ada bus, Unsa akan lebih memilih pulang. Namun sebagian pelajar nekat memilih berjalan kaki menuju sekolah, meski jarak dari rumah menuju sekolah cukup jauh.

Sementara di Tasikmalaya, Jawa Barat, hari ini berbeda dengan hari-hari biasanya. Para pelajar yang kesehariannya menggunakan angkutan kota (Angkot) untuk menuju sekolah, namum khusus hari ini mereka justru diantar kendaraan Dinas Kepolisian ke sekolah masing-masing.

Hal itu menyusul aksi mogok para awak Angkot seiring seruan DPP Organda (organisasi angkutan darat) sebagai bentuk protes kenaikan harga BBM.

Dalam aksi mogok ini para awak Angkot menurunkan paksa penumpang dari angkot yang kedapatan membawa penumpang. Sementara itu polisi telah disiagakan di sejumlah titik untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan dampak kenaikan harga BBM.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya