“Kanu is not only about Nigeria, Kanu is big across Africa”. Itulah pernyataan gelandang Portsmouth asal Nigeria, John Utaka, yang intinya menyatakan Kanu—notabene rekan setimnya—tidak hanya milik bangsa Nigeria semata, tapi juga milik bangsa Afrika.
Tidak berlebihan jika Kanu menjadi duta Afrika di level internasional. Partisipasinya menjelajahi tiga kompetisi elite di Eropa, Eredivisie bersama Ajax Amsterdam (1993-96), Serie A Italia bersama Inter Milan (1996-99), dan Liga Premier bersama Arsenal, West Bromwich Albion, dan terakhir Pompey, membuka mata dunia terhadap talenta pemain Afrika.
Dalam wawancaranya dengan The Independent, dari pengalamannya berkecimpung di persepakbolaan Eropa, Kanu, 31 tahun—peraih penghargaan Pemain Terbaik Afrika dua kali (1996 dan 1999), peraih medali emas Olimpiade, menjuarai Liga Champions bersama Ajax (1994-95), dan dua kali bersama Arsenal meraih gelar ganda (premiership dan FA Cup) plus mengantarkan Pompey melaju ke babak final FA Cup musim ini—tahu persis begitu terpuruknya para pemain Afrika. Tanpa tedeng aling-aling, Kanu mengecam sikap para agen yang bertahun-tahun memeras para pemain dan meninggalkannya dalam kondisi yang sengsara.
Karena itu, Kanu berupaya untuk mengangkat derajat dan martabat para pemain Afrika di percaturan sepakbola dunia. Hebatnya lagi, langkah yang Kanu lakukan tidak hanya sebatas soal sepakbola semata. Tapi, juga sisi kehidupan yang lainnya. Misalnya, soal kesehatan, problema klasik yang terjadi di negara-negara miskin.
Sebagai langkah awal, Kanu mendirikan akademi sepakbola yang tersebar di sejumlah negara Afrika, mulai dari Ghana, Nigeria, Sierra Leone, Uganda, dan Somalia. Kanu sangat yakin jika saat ini bangsanya kurang mampu bersikap dan bertindak yang benar dan baik untuk memenuhi kepentingan pemain dan keluarganya.
Sebelum membangun akademi sepakbola, delapan tahun lalu, Kanu terlebih dahulu mendirikan yayasan jantung yang telah berhasil menyelamatkan ratusan anak-anak yang butuh tindak operasi. Daripada menerbangkan pasien dan keluarga mereka ke luar negeri demi menjala