Dulu, tidak banyak orang yang mengasosiasikan sepakbola Brasil dengan posisi kiper. Seolah-olah, kiper dalam sepakbola Brasil hanya merupakan pelengkap. Bahkan ada sebuah pepatah kuno Brasil yang menyebutkan “posisi kiper sangatlah buruk, bahkan rumput pun tidak tumbuh di dekat kiper”. Tidak heran, dunia lebih mengenal nama pemain-pemain Brasil yang beroperasi sebagai gelandang atau penyerang. Nama-nama besar Brasil di masa lalu dapat menjadi bukti, kita mengenal Pele, Socrates, Garrincha, atau Zico, namun sedikit sekali yang mengenal siapa kiper yang mengawal gawang Brasil kala Pele dkk asyik “menari-nari”.
Namun, keadaan sekarang telah berbeda. Tengoklah dua klub yang saling berlomba mengejar scudetto di ranah Italia. Kita akan menemukan dua sosok asal Brasil di bawah mistar gawang. Doni di AS Roma, dan Julio Cesar mengawal gawang Inter Milan. Bahkan sebelum performanya menurun dan terpaksa dilengserkan dari posisi kiper utama, Dida adalah kiper nomor satu AC Milan. Sementara Doni dan Cesar masih berjaya, masih ada satu lagi kiper asal Brasil di Serie A. Meski belum menembus skuad inti, Rubinho telah membuktikan kalau kiper asal Brasil kini mulai mengancam eksistensi kiper-kiper Italia.
Hal ini tentu cukup mengejutkan. Sebab hal ini terjadi di Italia. Tempat di mana kiper-kiper domestik selalu berjaya, karena kemampuan dan bakatnya. Berbeda dengan Inggris yang akhir-akhir ini kesulitan menemukan kiper lokal yang cukup baik untuk membela timnasnya, akibat tergeser kiper asing, Italia tidak pernah kehabisan stok kiper dengan kualitas terbaik. Walau demikian, mungkin saat ini kiper-kiper Italia harus lebih waspada, sebab bukan tidak mungkin posisi yang secara tradisional mereka kuasai lambat laun akan terebut juga oleh kiper asing, atau lebih spesifik kiper Brasil.
Selain di Serie A, kiper Brasil juga sudah menjadi andalan beberapa klub papan atas Eropa. Juara Eredivise, PSV Eindhoven, memiliki Heurelho Gomes untuk mengawal gawang mereka. Begitu pula Helton di FC Porto. Di Spanyol, peranan Diego Alves cukup berarti dalam membawa Almeria bertengger di peringkat ketujuh klasemen sementara La Liga.
Sulit untuk mengatakan bahwa kesuksesan Claudio Taffarel tidak berdampak banyak pada karier mereka. Sebagai kiper Brasil pertama yang hijrah ke Eropa, Taffarel telah membukakan jalan bagi para juniornya. Meski saat bermain di Serie A dan La Liga, Taffarel tidak pernah menjuarai apapun bersama klub, namun ia mencatatkan sukses saat membawa Galatasaray menjuarai Piala UEFA dan Piala Super Eropa 2000.
Itulah sebabnya, Taffarel dijadikan idola oleh sebagian besar kiper asal Brasil yang kini berkarier di Eropa. Taffarel sendiri pernah mengatakan bahwa di Brasil, kiper bagus mudah ditemukan. “Mereka (kiper bagus) ada di sini (Brasil), hanya mungkin kamu yang berada di Eropa tidak memperhatikannya,” tutur Taffarel seperti dilansir Times. Melihat gelagat seperti ini, nampaknya hanya tinggal masalah waktu, sebelum kiper-kiper (dan pemain di posisi lain) asal Brasil benar-benar menguasai Eropa.
Namun, keadaan sekarang telah berbeda. Tengoklah dua klub yang saling berlomba mengejar scudetto di ranah Italia. Kita akan menemukan dua sosok asal Brasil di bawah mistar gawang. Doni di AS Roma, dan Julio Cesar mengawal gawang Inter Milan. Bahkan sebelum performanya menurun dan terpaksa dilengserkan dari posisi kiper utama, Dida adalah kiper nomor satu AC Milan. Sementara Doni dan Cesar masih berjaya, masih ada satu lagi kiper asal Brasil di Serie A. Meski belum menembus skuad inti, Rubinho telah membuktikan kalau kiper asal Brasil kini mulai mengancam eksistensi kiper-kiper Italia.
Hal ini tentu cukup mengejutkan. Sebab hal ini terjadi di Italia. Tempat di mana kiper-kiper domestik selalu berjaya, karena kemampuan dan bakatnya. Berbeda dengan Inggris yang akhir-akhir ini kesulitan menemukan kiper lokal yang cukup baik untuk membela timnasnya, akibat tergeser kiper asing, Italia tidak pernah kehabisan stok kiper dengan kualitas terbaik. Walau demikian, mungkin saat ini kiper-kiper Italia harus lebih waspada, sebab bukan tidak mungkin posisi yang secara tradisional mereka kuasai lambat laun akan terebut juga oleh kiper asing, atau lebih spesifik kiper Brasil.
Selain di Serie A, kiper Brasil juga sudah menjadi andalan beberapa klub papan atas Eropa. Juara Eredivise, PSV Eindhoven, memiliki Heurelho Gomes untuk mengawal gawang mereka. Begitu pula Helton di FC Porto. Di Spanyol, peranan Diego Alves cukup berarti dalam membawa Almeria bertengger di peringkat ketujuh klasemen sementara La Liga.
Sulit untuk mengatakan bahwa kesuksesan Claudio Taffarel tidak berdampak banyak pada karier mereka. Sebagai kiper Brasil pertama yang hijrah ke Eropa, Taffarel telah membukakan jalan bagi para juniornya. Meski saat bermain di Serie A dan La Liga, Taffarel tidak pernah menjuarai apapun bersama klub, namun ia mencatatkan sukses saat membawa Galatasaray menjuarai Piala UEFA dan Piala Super Eropa 2000.
Itulah sebabnya, Taffarel dijadikan idola oleh sebagian besar kiper asal Brasil yang kini berkarier di Eropa. Taffarel sendiri pernah mengatakan bahwa di Brasil, kiper bagus mudah ditemukan. “Mereka (kiper bagus) ada di sini (Brasil), hanya mungkin kamu yang berada di Eropa tidak memperhatikannya,” tutur Taffarel seperti dilansir Times. Melihat gelagat seperti ini, nampaknya hanya tinggal masalah waktu, sebelum kiper-kiper (dan pemain di posisi lain) asal Brasil benar-benar menguasai Eropa.