Juventus kekurangan pemain ke-12 saat berlaga kontra Fiorentina dalam lanjutan Serie A Italia pekan ketujuh. Minggu, 7 Oktober, Juve minus para tifosi-nya atau yang dikenal dengan sebutan Juventini dalam pertandingan tandang ke markas La Viola, Stadion Artemio Franchi.
Keputusan pahit bagi Bianconeri tersebut diambil setelah terjadi kerusuhan dalam pertarungan derby kontra Torino yang bertajuk Derby della Molle, hari Minggu lalu. Kerusuhan dipicu oleh para suporter kedua kesebelasan yang berasal dari kota yang sama, Turin.
Pada 23 September, ketika berhadapan dengan AS Roma di Stadion Olimpico, Roma, Juventini juga terlibat bentrok dengan aparat polisi anti huru-hara yang diterjunkan di stadion. Rentetan insiden tak sedap yang menjadi noda di persepakbolaan Italia segera dicermati.
Demi mengantisipasi kejadian serupa, Lega Calcio terpaksa mengeluarkan keputusan tersebut. Utamanya karena Fiorentina dan Juve merupakan dua klub yang dalam sejarah panjangnya saling gontok-gontokkan. Menurut klaim Lega Calcio, seperti dikutip Football Italia, percikan kecil saja bisa menyebabkan insiden yang tidak diinginkan, baik di tribun penonton maupun di luar stadion.
Pengalaman buruk akibat ulah suporter membuat jajaran terkait di Italia kini lebih ketat dalam usahanya mengamankan jalannya pertandingan. Masih berbekas insiden musim lalu dimana seorang petugas polisi meninggal dunia secara tragis saat berusaha meredam kerusuhan antar suporter dalam derby Sisilia, Catania versus Palermo.
Akibatnya, setiap stadion klub Serie A harus memenuhi standar keamanan Legge Pisanu. Sebelumnya, tifosi Napoli sudah kena dampak dari blocking serupa. Mereka tidak bisa menemani tim kesayangannya yang berlaga kontra Inter Milan di Stadion Giuseppe Meazza atau San Siro, Sabtu atau Minggu dinihari (WIB).
Hukuman dijatuhkan setelah tifosi Napoli terbukti melempar botol ke dalam lapangan saat klub dari Kota Naples tersebut berhasil memetik poin penuh dari tangan Livorno, Rabu (26/09). Pekan lalu, saat Napoli menjamu Genoa, Stadion San Paolo tertutup bagi penonton. Dampaknya nyata, Napoli takluk dari sesama tim promosi tersebut 1-2.
Keputusan pahit bagi Bianconeri tersebut diambil setelah terjadi kerusuhan dalam pertarungan derby kontra Torino yang bertajuk Derby della Molle, hari Minggu lalu. Kerusuhan dipicu oleh para suporter kedua kesebelasan yang berasal dari kota yang sama, Turin.
Pada 23 September, ketika berhadapan dengan AS Roma di Stadion Olimpico, Roma, Juventini juga terlibat bentrok dengan aparat polisi anti huru-hara yang diterjunkan di stadion. Rentetan insiden tak sedap yang menjadi noda di persepakbolaan Italia segera dicermati.
Demi mengantisipasi kejadian serupa, Lega Calcio terpaksa mengeluarkan keputusan tersebut. Utamanya karena Fiorentina dan Juve merupakan dua klub yang dalam sejarah panjangnya saling gontok-gontokkan. Menurut klaim Lega Calcio, seperti dikutip Football Italia, percikan kecil saja bisa menyebabkan insiden yang tidak diinginkan, baik di tribun penonton maupun di luar stadion.
Pengalaman buruk akibat ulah suporter membuat jajaran terkait di Italia kini lebih ketat dalam usahanya mengamankan jalannya pertandingan. Masih berbekas insiden musim lalu dimana seorang petugas polisi meninggal dunia secara tragis saat berusaha meredam kerusuhan antar suporter dalam derby Sisilia, Catania versus Palermo.
Akibatnya, setiap stadion klub Serie A harus memenuhi standar keamanan Legge Pisanu. Sebelumnya, tifosi Napoli sudah kena dampak dari blocking serupa. Mereka tidak bisa menemani tim kesayangannya yang berlaga kontra Inter Milan di Stadion Giuseppe Meazza atau San Siro, Sabtu atau Minggu dinihari (WIB).
Hukuman dijatuhkan setelah tifosi Napoli terbukti melempar botol ke dalam lapangan saat klub dari Kota Naples tersebut berhasil memetik poin penuh dari tangan Livorno, Rabu (26/09). Pekan lalu, saat Napoli menjamu Genoa, Stadion San Paolo tertutup bagi penonton. Dampaknya nyata, Napoli takluk dari sesama tim promosi tersebut 1-2.