Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) melaporkan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Mei 2014 tercatat sebesar US$ 283,7 miliar, tumbuh 9,7 persen dibandingkan dengan posisi Mei 2013.
Pertumbuhan itu dikontribusikan salah satunya dari ULN berjangka pendek yang tumbuh 8,3% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang terkontraksi 2,3 persen (yoy).
Direktur Eksekutif Departemen Statistik Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, Hendy Sulistyowati mengungkapkan mayoritas utang jangka pendek lebih disebabkan karena impor Bahan Bakar Minyak (BBM).
"Utang jangka pendek itu lebih karena biaya impor minyak, makanya kita harus hemat energi biar tidak membengkak," kata dia di Gedung Bank Indonesia, Kamis (17/7/2014).
Hendri menjelaskan sementara pada ULN sektor listrik, gas, dan air bersih tumbuh 9,8 persen (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan April 2014 sebesar 1,8 persen (yoy).
Di sisi lain, ULN sektor industri pengolahan dan pertambangan pada bulan Mei 2014 mengalami pertumbuhan yang lebih rendah dibandingkan pertumbuhan bulan lalu, yaitu 12,1 persen (yoy) dan 6,6 persen (yoy), dari sebelumnya sebesar 13,2 persen (yoy) dan 15,9 persen (yoy).
Tidak hanya itu, pertumbuhan ULN sektor keuangan tercatat sebesar 21,2 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 13,2 persen (yoy).
Hendy menambahkan, Bank Indonesia memandang perkembangan ULN sampai Mei 2014 masih cukup sehat dalam menopang ketahanan sektor eksternal meskipun perlu terus diwaspadai.
"Bank Indonesia akan tetap memantau dan memperkuat kebijakan pengelolaan ULN, khususnya ULN swasta, sehingga ULN dapat berperan secara optimal dalam mendukung pembiayaan pembangunan tanpa menimbulkan risiko stabilitas makroekonomi," pungkasnya. (Yas/Nrm)
Advertisement