Liputan6.com, Jakarta - Ekonom Faisal Basri menilai jatuh bangun perekonomian Indonesia, sebagian besar disebabkan karena faktor internal. Selain itu, pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dinilai sebagai penyebab utama terjadinya berbagai ketimpangan yang terjadi di Tanah Air selama 10 tahun terakhir.
"Gara-gara SBY tren pendapatan nasional jangka panjang Indonesia menurun, terutama masa pemerintahan SBY yang ke-2. Kalau SBY memerintah sesuai dengan RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah), trennya harusnya naik," ujarnya saat menjadi pembicara dalam acara Seminar Kajian Tengah Tahun INDEF di Jakarta, Kamis (26/6/2014).
Advertisement
Kenyataannya, dia menjelaskan, tren pendapatan domestik bruto (PDB) Indonesia kian menurun bahkan tertinggal di bawah Timor Leste.
Padahal pada 1969, pendapatan nasional (Gross National Income/GNI), pendapatan per kapita Indonesia berdasarkan atals method berada pada level yang sama dengan sebagian negara Asia lainnya.
"Tapi sekarang Indonesia malah menjadi yang paling buncit. Disusul China pada 1998 lalu disusul Timor leste tahun 2008. Jadi pendapatan per kapita kita berdasarkan atlas method sudah lebih rendah daripada Timor Leste," katanya.
Dia menjelaskan, saat ini pendapatan per kapita Indonesia berada di level US$ 3.420. Sementara Timor Leste berhasil mengungguli dengan level pendapatan per kapitan di level US$ 3.620.
Selain itu, dia kembali menuding SBY karena tingginya ketimpangan pendapatan yang terjadi di Indonesia.
"Ketidaksetaraan pendapatan Indonesia terus meningkat sejak 1910 hingga 2010. Kini kondisinya bahkan lebih buruk dari India dan China," tuturnya.
Faisal menerangkan, pertumbuhan pendapatan orang kaya dan miskin di Indonesia bagaimana bemo yang bertanding melawan mobil balap F1. "Semakin kaya, semakin cepat larinya," tandas dia. (Sis/Nrm)