Liputan6.com, Bengkulu: Ratusan petani jagung di Desa Sukasari, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bengkulu Selatan, mengeluhkan harga jagung yang anjlok pada musim panen kali ini. Kondisi ini membuat pendapatan para petani tak berimbang, antara biaya perawatan dan penghasilan yang diperoleh.
Menurut pengamatan SCTV, baru-baru ini, dengan harga jual Rp 800 per kilogram untuk hasil produksi sekitar enam ton per hektare, petani hanya memperoleh pendapatan sekitar Rp 3 juta per hektare. Padahal, para petani masih harus menyisihkan biaya pemeliharaan untuk musim tanam berikutnya sekitar Rp 2,5 juta per hektare. Itulah sebabnya, mereka kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga untuk masa empat bulan atau selama masa tanam jagung.
Para petani sebenarnya telah merasakan harga jagung anjlok sejak beberapa tahun terakhir. Untuk mengantisipasi hal itu, para petani yang sebelumnya menanam jagung lokal kini telah beralih menanam jagung bertongkol dua yang mempunyai produksi lebih tinggi. Namun, langkah yang membutuhkan dana lebih besar itu tak berimbang dengan hasil yang didapat.
Para petani berharap ada upaya dari instansi terkait untuk menampung hasil panen jagung. Sebab, selama ini mereka hanya dapat menjual jagung kepada tengkulak dengan harga di bawah standar.(ULF/Rishnaldi)
Menurut pengamatan SCTV, baru-baru ini, dengan harga jual Rp 800 per kilogram untuk hasil produksi sekitar enam ton per hektare, petani hanya memperoleh pendapatan sekitar Rp 3 juta per hektare. Padahal, para petani masih harus menyisihkan biaya pemeliharaan untuk musim tanam berikutnya sekitar Rp 2,5 juta per hektare. Itulah sebabnya, mereka kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga untuk masa empat bulan atau selama masa tanam jagung.
Para petani sebenarnya telah merasakan harga jagung anjlok sejak beberapa tahun terakhir. Untuk mengantisipasi hal itu, para petani yang sebelumnya menanam jagung lokal kini telah beralih menanam jagung bertongkol dua yang mempunyai produksi lebih tinggi. Namun, langkah yang membutuhkan dana lebih besar itu tak berimbang dengan hasil yang didapat.
Para petani berharap ada upaya dari instansi terkait untuk menampung hasil panen jagung. Sebab, selama ini mereka hanya dapat menjual jagung kepada tengkulak dengan harga di bawah standar.(ULF/Rishnaldi)