Liputan6.com, Yogyakarta: Koordinator Perguruan Tinggi Swasta wilayah V mensinyalir kasus penipuan berkedok pendidikan kembali marak di Yogyakarta. Hal itu dibuktikan dengan munculnya aksi demonstrasi mahasiswa Lembaga Pendidikan Abakom di Bantul dan Akademi Perawatan Al-Islam di Yogya, baru-baru ini. "Sebenarnya kami telah lama mengetahui praktik penipuan sebelum para mahasiswa berdemonstrasi," kata Sekretaris Kopertis V Yogyakarta Ari Sudarman, seusai mengunjungi Sekolah Tinggi Pariwisata Yogya, Senin (24/9).
Akibat penipuan itu, sejumlah mahasiswa mengaku telah tertipu jutaan rupiah karena ulah nekat pengelola lembaga pendidikan tersebut. Padahal, menurut Ari, penertiban kursus ilegal gencar dilakukan menyusul terungkapnya kasus penipuan Lembaga Pendidikan Kursus IKMII, dua tahun silam.
Kendati begitu, penipuan berkedok lembaga pendidikan tetap saja marak. Sejumlah pengelola kursus terang-terangan membuka pendaftaran dengan biaya jutaan rupiah, meski belum mengantongi izin Kopertis. Tak hanya itu, pengelola juga kerap menipu calon mahasiswa dengan janji muluk dalam brosur promosi. Untuk itu, Ari berharap, calon mahasiswa yang hendak meneruskan pendidikan di Yogya tak gegabah memilih sekolah. Mereka disarankan untuk meminta informasi soal lembaga pendidikan dari Kopertis setempat.(KEN/Wiwik Susilo dan Mardianto)
Akibat penipuan itu, sejumlah mahasiswa mengaku telah tertipu jutaan rupiah karena ulah nekat pengelola lembaga pendidikan tersebut. Padahal, menurut Ari, penertiban kursus ilegal gencar dilakukan menyusul terungkapnya kasus penipuan Lembaga Pendidikan Kursus IKMII, dua tahun silam.
Kendati begitu, penipuan berkedok lembaga pendidikan tetap saja marak. Sejumlah pengelola kursus terang-terangan membuka pendaftaran dengan biaya jutaan rupiah, meski belum mengantongi izin Kopertis. Tak hanya itu, pengelola juga kerap menipu calon mahasiswa dengan janji muluk dalam brosur promosi. Untuk itu, Ari berharap, calon mahasiswa yang hendak meneruskan pendidikan di Yogya tak gegabah memilih sekolah. Mereka disarankan untuk meminta informasi soal lembaga pendidikan dari Kopertis setempat.(KEN/Wiwik Susilo dan Mardianto)