Liputan6.com, Jakarta: Kepala Pusat Laboratorium Forensik Polri Brigadir Jenderal Polisi M Hamim Suryaamidjaya mengungkapkan bahan peledak pada Plaza Atrium Senen, Jakarta Pusat, menggunakan trinitrotulene dengan tiga detonator yang memiliki daya ledak tinggi. "Ledakan itu adalah bom mobil yang ditaruh di dalamnya. Tujuannya untuk meneror masyarakat," kata dia kepada Indiarto Priadi di Studio SCTV, Senin (24/9) petang. Menurut Hamim, jenis bom ini terakhir digunakan pada ledakan menjelang malam Natal 2000.
Petunjuk lain yang diperoleh adalah mobil pembawa bom itu bekas milik Tengku Ismuhadi, terpidana pengeboman Gedung Bursa Efek Jakarta. Hal yang menarik yaitu timer bom dari jam dinding tersimpan di jok belakang mobil. Jam berukuran besar itu dirangkaikan dengan kabel ke aki yang dihubungkan ke bagasi dan bagian bawah jok depan. Dia memperkirakan bom rangkaian itu dibuat dengan biaya yang relatif murah. "Saya bertangung jawab pada tempat kejadian dan analisa bahan peledak. Saya tak punya kewenangan mengidentifikasi pelaku dan mengkaitkannya dengan peristiwa-peristiwa silam," kata dia.
Sedangkan bekas Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara Letnan Jenderal TNI (purnawirawan) Z.A. Maulani mengatakan kepolisian bisa menemukan pelaku dengan berbagai petunjuk yang diperoleh. Polisi, kata Maulani, bisa menganalisa mengapa Atrium Senen hingga tiga kali menjadi sasaran peledakan bom.
Menurut Maulani, polisi bisa mencari cara-cara pembuatan bom dan kesenangan pelaku untuk menyerang tempat tertentu. "Biasanya kelompok yang sama menyerang tempat-tempat dengan ciri sama," kata dia. Penggunaan TNT sebagai bahan peledak juga menjadi petunjuk lain karena benda itu bukan barang yang bisa diperjualbelikan secara bebas di masyarakat.
Bekas Sekretaris Wakil Presiden itu mengatakan penempatan bom rakitan di kendaraan bermotor bertujuan menebar teror ketakutan pada masyarakat setempat. Orang kepercayaan mantan Presiden Habibie itu mengatakan sebagai bekas intelijen, dia tak memiliki kewenangan untuk mengenali pelaku karena tak memiliki data-data dan fakta. Ketua Keluarga Besar Alumni Pelajar Islam Indonesia (PII) itu memperkirakan pelaku peristiwa itu bisa berasal dari kelompok pelaku peledakan sebelumnya atau kelompok lain yang menunggangi. Maulani menegaskan Polri harus mampu mengungkapkan kasus itu agar menumbuhkan kepercayaan masyarakat dan memberikan ketenangan.(COK)
Petunjuk lain yang diperoleh adalah mobil pembawa bom itu bekas milik Tengku Ismuhadi, terpidana pengeboman Gedung Bursa Efek Jakarta. Hal yang menarik yaitu timer bom dari jam dinding tersimpan di jok belakang mobil. Jam berukuran besar itu dirangkaikan dengan kabel ke aki yang dihubungkan ke bagasi dan bagian bawah jok depan. Dia memperkirakan bom rangkaian itu dibuat dengan biaya yang relatif murah. "Saya bertangung jawab pada tempat kejadian dan analisa bahan peledak. Saya tak punya kewenangan mengidentifikasi pelaku dan mengkaitkannya dengan peristiwa-peristiwa silam," kata dia.
Sedangkan bekas Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara Letnan Jenderal TNI (purnawirawan) Z.A. Maulani mengatakan kepolisian bisa menemukan pelaku dengan berbagai petunjuk yang diperoleh. Polisi, kata Maulani, bisa menganalisa mengapa Atrium Senen hingga tiga kali menjadi sasaran peledakan bom.
Menurut Maulani, polisi bisa mencari cara-cara pembuatan bom dan kesenangan pelaku untuk menyerang tempat tertentu. "Biasanya kelompok yang sama menyerang tempat-tempat dengan ciri sama," kata dia. Penggunaan TNT sebagai bahan peledak juga menjadi petunjuk lain karena benda itu bukan barang yang bisa diperjualbelikan secara bebas di masyarakat.
Bekas Sekretaris Wakil Presiden itu mengatakan penempatan bom rakitan di kendaraan bermotor bertujuan menebar teror ketakutan pada masyarakat setempat. Orang kepercayaan mantan Presiden Habibie itu mengatakan sebagai bekas intelijen, dia tak memiliki kewenangan untuk mengenali pelaku karena tak memiliki data-data dan fakta. Ketua Keluarga Besar Alumni Pelajar Islam Indonesia (PII) itu memperkirakan pelaku peristiwa itu bisa berasal dari kelompok pelaku peledakan sebelumnya atau kelompok lain yang menunggangi. Maulani menegaskan Polri harus mampu mengungkapkan kasus itu agar menumbuhkan kepercayaan masyarakat dan memberikan ketenangan.(COK)