Liputan6.com, Tangerang: Puluhan warung makanan dan minuman kian hari semakin memenuhi gerbang tol Cikupa, Tangerang, Banten. Padahal, keberadaan kedai itu kerap menimbulkan kemacetan. Menurut Aswiyah, para pedagang terpaksa berjualan di sepanjang jalan tol karena tidak mempunyai lahan lagi. Hal itu sudah berlangsung sejak krisis moneter mendera, empat tahun silam. Para pedagang juga mengaku telah mendapat izin dari Kepala Desa Telaga Sari dan Pasir Gadung untuk membangun warung di kawasan tersebut.
Sebelumnya, PT Jasa Marga sebagai pengelola jalan tol telah memasang pagar pembatas sepanjang dua kilo meter di antara lahan pemukiman dan jalan tol. Tapi, warga nekat membongkar pembatas itu dan kemudian membangun warung di atas tanah tersebut.
Kondisi ini membuat para pengemudi kendaraan memilih berhenti di warung-warung itu, dibanding tempat peristirahatan resmi di dekat gerbang tol Serang. Tersiar kabar, sejumlah pelacur juga ikut beroperasi di sekitar gerbang jalan tol Cikupa. Itulah sebabnya, Jasa Marga berang dan meminta para pedagang memundurkan warung sekaligus memagar kembali lokasi tersebut.(KEN/Syaiful Halim dan Andi Azril)
Sebelumnya, PT Jasa Marga sebagai pengelola jalan tol telah memasang pagar pembatas sepanjang dua kilo meter di antara lahan pemukiman dan jalan tol. Tapi, warga nekat membongkar pembatas itu dan kemudian membangun warung di atas tanah tersebut.
Kondisi ini membuat para pengemudi kendaraan memilih berhenti di warung-warung itu, dibanding tempat peristirahatan resmi di dekat gerbang tol Serang. Tersiar kabar, sejumlah pelacur juga ikut beroperasi di sekitar gerbang jalan tol Cikupa. Itulah sebabnya, Jasa Marga berang dan meminta para pedagang memundurkan warung sekaligus memagar kembali lokasi tersebut.(KEN/Syaiful Halim dan Andi Azril)