Capello Hengkang, Del Piero Riang

Kapten Juventus Alessandro Del Piero benar-benar gembira dengan kepindahan Fabio Capello ke Real Madrid. Menurut Del Piero, selama dua tahun dilatih Capello, ia benar-benar kesulitan. Bahkan, Del Piero mengatakan era Capello adalah era teror!

oleh Liputan6Diterbitkan 11 Agustus 2006, 00:30 WIB
Italian forward Alessandro Del Piero answers journalists' questions during a press conference in Duisburg, 10 June 2006 as the Italian national team prepares the football World Cup 2006. AFP PHOTO / Patrick HERTZOG
Nama Fabio Capello adalah jaminan mutu. Tengoklah prestasinya sewaktu menjadi pelatih AC Milan, AS Roma, dan Real Madrid. Lima gelar Liga Serie A Italia telah Capello persembahkan bagi Milan (empat kali) dan Roma (sekali). Bahkan, pada masa jayanya, pada tahun 1994, Capello mampu membawa Milan menjadi raja di Italia dan Eropa. Empat gelar dalam semusim berhasil diraih Milan bersama Capello saat itu, yaitu gelar scudetto Liga Serie A, Liga Champions, Piala Super Italia, dan Piala Super Eropa.

Masih kurang? Meski hanya menangani Real Madrid dalam semusim—1996-97—Capello mampu mempersembahkan gelar jawara La Liga. Wajarlah jika banyak orang yang merasa kehilangan ketika Don Fabio, julukan Capello, ujug-ujug lari dari Turin dan menerima tawaran Ramon Calderon untuk menangani Real Madrid.

Tapi, bagi seorang pemain yang bernama Alessandro Del Piero, kepindahan Capello ke Santiago Bernabeu bukanlah satu kehilangan, justru merupakan satu keberuntungan. Lho, mengapa?

Jawabannya sangat mudah. Susuri perjalanan Del Piero, kapten Juventus, selama dua musim terakhir saat Capello berkuasa di Delle Alpi. Meski masih mampu menunjukkan kehebatannya dalam menjebol gawang lawan, mencetak 14 gol (musim 2004-05) dan 12 gol (musim 2005-06), selama dua musim tersebut Del Piero merasa gerah dengan kebijakan Capello yang lebih “sayang” dengan duet Zlatan Ibrahimovic-David Trezeguet sebagai ujung tombak Juventus.

Sekarang, meskipun mengakui perjuangan di Liga Serie B akan jauh lebih sulit, Del Piero mengaku ia berharap kembali memainkan peranan utama di tim. “Dua tahun terakhir (dilatih Capello) benar-benar membuat saya kesulitan,” kata Alex, julukannya, kepada La Gazzetta dello Sport.

“Akan tetapi, sekarang saya dapat kembali bermain bola. Sekarang, era latihan di bawah Capello yang penuh dengan teror telah usai. Di atas segala-galanya, Anda tidak dapat memperlakukan seorang pemain yang berusia 30 tahun sama dengan pemain yang berusia 18 tahun,” ujar Del Piero menyindir kebijakan Capello yang memang “memukul rata” setiap pemainnya.
Lanjut Baca:

Bagaimana dengan pelatih baru, Didier Deschamps? “Ia benar-benar teman yang luar biasa. Bersama kami, Deschamps akan menjadi pelatih yang sukses,” kata striker yang November nanti genap berusia 32 tahun itu.Pemain yang dijuluki Pinturicchio itu mengaku keputusannya untuk tetap membela Juventus telah diambilnya setahun lalu. “Keputusan untuk tetap tinggal di Turin saya ambil setahun lalu setelah saya bertanya kepada hati nurani saya sendiri,” kata Del Piero. “Sekarang, setelah menjuarai PD 2006, saya harus memahami bahwa Juventus—seperti yang dikatakan Pavel Nedved—membutuhkan kontribusi pemain senior,” ujar Del Piero. Sebab, tambahnya, “Keluarga Agnelli (pemilik klub) pantas untuk mendapatkan hal itu, seperti halnya para pendukung dan direktur klub.”Enam pemain inti Juventus telah “kabur” dari Delle Alpi. Pantaskah mereka disebut pengkhianat? “Saya respek dengan keputusan mereka untuk berganti kostum,” kata Del Piero singkat. Ditanya tentang komentarnya terhadap putusan Calciopoli yang mencabut gelar scudetto bagi Juventus selama dua musim berturut-turut, Del Piero terkesan berang. “Di lapangan, kami pantas untuk mendapatkan gelar tersebut. Saya lelah mendengar orang berkata, scudetto perlu kejujuran. Tidak ada seorang pun yang berhak mengambil gelar itu dari hati ataupun dari kaki saya,” tegas Del Piero.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya